Krisis Energi Bikin Harga BBM dan Gas Elpiji Naik

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Minggu 10 Oktober 2021 17:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 10 320 2484125 krisis-energi-bikin-harga-bbm-dan-gas-elpiji-naik-jYMo0QRZbJ.jpg Dampak Krisis Energi di China dan Eropa. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Krisis energi global perlu diwaspadai, termasuk Indonesia. Pasalnya krisis energi berpengaruh karena adanya ketergantungan pada impor.

Saat ini sejumlah negara seperti Eropa dan China tengah terjadi krisis energi yang ditandai dengan meroketnya harga gas dan batu bara, serta disusul dengan kenaikan harga minyak. Meroketnya kebutuhan gas di Eropa mengakibatkan impor LNG meningkat, yang sebagian berasal dari pasar Asia Pasifik.

Baca Juga: Krisis Energi vs EBT & Covid

Di sisi lain, kondisi pemulihan ekonomi di China telah mendorong peningkatan permintaan komoditas energi. Hal ini diperparah adanya embargo supply batu bara dari Australia yang menyebabkan harga batu bara mencapai tingkat tertinggi selama sejarah, melebihi USD250 per ton di awal Oktober 2021 ini.

Gubernur Indonesia untuk OPEC 2015-2016 Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, untuk kasus Indonesia, hal ini akan berpengaruh pada harga BBM dan LPG yang biaya perolehannya akan meningkat tajam. Harga energi yang melonjak ini akan berdampak pada peningkatan harga komoditas lain serta layanan jasa sehingga dapat mengancam kenaikan inflasi melebihi target.

Baca Juga: Eropa Krisis Energi, Indonesia Bisa Ambil Hikmahnya

"Untuk itu, perlu diingat bahwa kondisi Indonesia sangat rentan terhadap peningkatan harga energi primer, khususnya minyak bumi yang ketergantungan pada impornya tinggi. Terutama karena sebagian dari harga produk BBM dan LPG 3 KG masih disubsidi," ujarnya dalam webinar bertajuk Krisis Energi Mulai Melanda Dunia, Bagaimana Strategi RI? pada Minggu (10/10/2021).

Di sisi lain yang tidak kalah penting adalah terkait transisi energi. Kebijakan transisi yang hanya melihat pada kebutuhan jangka pendek dapat mendorong terjadinya under-investment dalam menghadapi pertumbuhan permintaan energi bersih maupun bersih fosil yang saat ini pertumbuhannya masih meningkat.

"Implementasi energi transisi yang tidak matang dapat menyebabkan Indonesia menjadi rentan ketika terjadi gangguan pasokan baik dalam negeri maupun dalam konteks global seperti saat ini," jelas Widhyawan.

Dia menambahkan, untuk batu bara dan LNG, sebenarnya Indonesia diuntungkan dari sisi neraca perdagangan karena masih net eksportir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini