Eropa Krisis Energi, Indonesia Bisa Ambil Hikmahnya

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Jum'at 08 Oktober 2021 17:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 08 320 2483459 eropa-krisis-energi-indonesia-bisa-ambil-hikmahnya-U0mkrC8Xpa.jpg Energi Baru Terbarukan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Eropa saat ini sedang mengalami masa sulit dalam menghadapi tingginya harga gas yang berdampak pada mahalnya biaya listrik. Seperti diketahui bahwa Eropa dianggap sukses dalam mendorong transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Maka itu Indonesia perlu mengambil pelajaran dari kejadian krisis energi di Eropa. Indonesia pun tengah menjalankan proses peralihan penggunaan energi dari energi fosil menuju EBT. Pemerintah telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 sampai 2060.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang, krisis energi di Eropa harus menjadi pembelajaran bagi Indonesia ke depan agar tidak salah langkah. Menurut dia, kebutuhan energi di masa depan akan semakin meningkat, tidak mungkin akan turun.

Baca Juga: Siap-Siap! UEA Bakal Guyur Investasi Jumbo ke Indonesia Selain Energi Terbarukan

"Apalagi negara berkembang seperti Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi terkoreksi akibat pandemi Covid-19, sebetulnya masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (8/10/2021).

Menurut dia, ruang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar ini sangat memerlukan keandalan listrik yang tidak bisa ditawar terutama jika ingin meningkatkan industrialisasi. "Ada beberapa kawasan industri yang akan bertambah. Tentu kebutuhan listrik sangat besar," imbuhnya.

Baca Juga: RUPTL 2021-2030, Porsi Pembangkit Listrik EBT 51,6%

Di sisi lain, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 porsi penambahan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 51,6%, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4%.

"Padahal kita tahu dari EBT ini masih memiliki kelemahan yang beda dengan energi fosil terutama dari pasokan listrik yang tidak stabil atau intermiten. Di sini pentingnya sistem jaringan yang bisa diandalkan," jelas Arthur.

Menurut dia, pemerintah juga masih punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dahulu, yaitu rasio elektrifikasi yang baru mencapai 99,37%. Masih ada beberapa provinsi yang perlu perhatian khusus agar seluruh desa di daerah 3T dapat memperoleh akses listrik.

"Jadi kembali lagi pasokan listrik perlu, tetapi tidak mengesampingkan mulai adanya transisi EBT. Ini harus dipetakan transisi dan distribusi supaya penyebarannya merata. Ini faktor penting untuk suksesnya transisi EBT," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini