Krisis Energi Buat Harga Minyak Dunia Bergerak Dua Arah

Antara, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 320 2485412 krisis-energi-buat-harga-minyak-dunia-bergerak-dua-arah-5w7r29LIVw.jpg Harga Minyak Beragam. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak beragam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Hal ini menghentikan reli harga ke tertinggi dan meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya energi lebih tinggi dapat menggagalkan pemulihan ekonomi global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun 23 sen menjadi USD83,42 per barel setelah diperdagangkan dari tertinggi USD84,23 hingga terendah USD82,72, Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November berakhir 12 sen lebih tinggi menjadi USD80,64 per barel, setelah bergerak berkisar antara USD81,62-USD79,47.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Jadi USD72,2/Barel, Berikut Faktor Pendorongnya

Tercatat minyak Brent telah naik selama 5 minggu berturut-turut. Sementara WTI mencatat kenaikan 7 minggu berturut-turut. Kedua kontrak telah meningkat lebih dari 15% sejak awal September.

Pihak berwenang dari Beijing hingga Delhi bergegas mengisi kesenjangan pasokan listrik yang menganga. Hal ini mengguncang pasar saham dan obligasi global di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi akan memicu inflasi.

Baca Juga: Harga Minyak Rebound, Brent Naik Jadi USD81,9/Barel

Harga listrik telah melonjak ke rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh kekurangan di Asia dan Eropa, dengan krisis energi di China diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun, menghambat pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia dan eksportir utama.

Di London dan Inggris tenggara, sepersepuluh stasiun bahan bakar minyak (SPBU) tetap kering karena pembelian panik bahan bakar pada bulan lalu, kata Asosiasi Pengecer Bahan Bakar Minyak.

"Orang-orang mulai menyadari bahwa risiko harga energi yang lebih tinggi dapat menggagalkan pertumbuhan. Apakah permintaan energi itu baik atau buruk?" kata Analis Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Antara, (13/10/2021).

Gangguan rantai pasokan yang terus-menerus dan tekanan inflasi menghambat pemulihan ekonomi global dari pandemi, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan ketika memangkas prospek pertumbuhan untuk Amerika Serikat dan kekuatan industri lainnya.

Dalam World Economic Outlook, IMF memangkas perkiraan pertumbuhan global 2021 menjadi 5,9% dari perkiraan 6,0% yang dibuat pada bulan Juli. IMF mempertahankan perkiraan pertumbuhan global 2022 tidak berubah di 4,9%.

Bahkan, ketika permintaan meningkat, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan produsen sekutu, yang dikenal sebagai OPEC+, tetap berpegang pada rencana untuk memulihkan produksi secara bertahap daripada secara cepat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini