Digabung, Pelindo Jadi Operator Terminal Petikemas Terbesar ke-8 Dunia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 320 2486298 digabung-pelindo-jadi-operator-terminal-petikemas-terbesar-ke-8-dunia-NAaulKxXcr.jpg Penggabungan Pelindo I, II, III dan IV. (Foto: Okezone.com/Pelindo)

JAKARTA - Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Arif Suhartono mengatakan, merger PT Pelindo I-IV meningkatkan posisi perseroan menjadi operator terminal petikemas terbesar ke-8 di dunia. Adapun total throughput petikemas mencapai 16,7 juta TEUs.

"Penggabungan ini juga menyatukan sumber daya keuangan, peningkatan leverage, dan memperkuat permodalan perusahaan," ujar Arif, Kamis (14/10/2021).

Peresmian merger Pelindo sudah dilakukan Presiden Joko Widodo di Terminal Multipurpose Wae Kelambu, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis, 14 Oktober 2021. Penggabungan BUMN ini diyakini akan meningkatkan daya saing Indonesia dengan negara lain.

Baca Juga: Besok, Presiden Jokowi Bakal Resmikan Pelabuhan Logistik Pertama di NTT

"Hari ini alhamdulillah tadi sudah sampaikan Dirut Pelindo, Pak Arif, sudah terjadi Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, Pelindo IV menjadi PT Pelindo atau PT Pelabuhan Indonesia. Apa yang ingin kita harapkan dari sini? Yang pertama sekali lagi, biaya logistik kita bisa bersaing dengan negara-negara lain. Artinya daya saing kita, competitiveness kita kan jadi lebih baik," ujar Presiden dalam sambutannya.

Selain itu, Presiden juga meminta agar segera dicarikan mitra yang memiliki jaringan yang luas sehingga nanti terkoneksi dengan negara-negara lain dengan baik. Dengan demikian, produk-produk dan barang-barang Indonesia bisa menjelajah dan masuk ke rantai pasok global.

Baca Juga: Naik Golf Car, Presiden Jokowi Keliling Lihat Bongkar Muat Terminal Multipurpose Wae Kelambu

Menurut Presiden, saat ini biaya logistik di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Biaya logistik di Indonesia masih sekitar 23 persen, sedangkan negara-negara tetangga hanya lebih kurang 12 persen.

"Artinya, ada yang tidak efisien di negara kita. Oleh sebab itu kenapa dibangun infrastruktur, baik itu jalan, baik itu pelabuhan, baik itu airport, karena kita ingin produk-produk kita, barang-barang kita bisa bersaing kalau kita adu kompetisi dengan produk-produk negara lain," katanya.

Penggabungan BUMN pelabuhan ini sendiri telah diperintahkan oleh Jokowi sejak 7 tahun yang lalu. Pada 1 Oktober 2021, Kepala Negara menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2021 Tentang Penggabungan PT Pelindo I, III, dan IV (Persero) ke dalam PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).

Presiden pun mengapresiasi Menteri BUMN Erick Thohir beserta jajarannya yang telah berhasil mewujudkan penggabungan BUMN kepelabuhanan tersebut. Kepala Negara berharap, penggabungan ini akan menjadikan Pelindo menjadi sebuah kekuatan besar dan bisa diikuti oleh BUMN lainnya.

"Nanti akan menjadi sebuah kekuatan besar, tadi sudah disampaikan akan masuk ke 8 besar dunia, inilah yang kita harapkan. Nanti perusahaan-perusahaan yang lain juga seperti itu. Jangan sampai kecil-kecil bertebaran sehingga kekuatannya menjadi minim, baik dari sisi keuangan, modal. Kalau bergabung seperti ini, kekuatannya akan menjadi gede," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini