Matahari Putra Prima Incar Dana Rights Issue Rp890,1 Miliar

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Jum'at 15 Oktober 2021 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 278 2486760 matahari-putra-prima-incar-dana-rights-issue-rp890-1-miliar-WfvVaRRANb.jpeg Matahari Putra Prima berencana melakukan rights issue (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT VI) atau rights issue. MPPA berencana rights issue sebanyak 1,17 miliar lembar saham biasa atas nama atau saham baru dengan nilai nominal Rp50 setiap saham yang ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp760 setiap saham.

Dana rights issue akan digunakan untuk memperkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya dan termasuk melunasi utang. Perseroan dalam siaran persnya mengungkapkan, jumlah tersebut mewakili sebanyak-banyaknya 13,46% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PUT VI.

Baca Juga: Gojek Akuisisi 6,7% Saham Emiten Pengelola Hypermart

Nanti dari aksi korporasi ini akan menghimpun dana sebanyak-banyaknya Rp890,11 miliar. Kemudian seluruh dana yang diperoleh dari PUT VI setelah dikurangi biaya-biaya dalam rangka PUT VI ini akan digunakan untuk tiga hal. Pertama, sekitar 16,9% akan digunakan untuk membayar sebagian pokok utang perseroan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).

Kepada BNI, melalui PUT VI, perseroan akan membayarkan Rp105 miliar dengan rincian Surat Sanggup (promissory note) periode 20 Juli – 23 Oktober 2021 senilai Rp55 miliar dan 23 Agustus – 22 November 2021 Rp50 miliar. Adapun, total saldo utang setelah dilakukan pembayaran akan menjadi Rp395 miliar dari posisi Rp500 miliar per 7 Oktober 2021.

Baca Juga: Matahari Putra Prima (MPPA) Akan Rights Issue Bidik Rp1,5 Triliun

Sedangkan, kepada CIMB Niaga, perseroan akan membayarkan Rp45 miliar dengan rincian prommisory notes 8 Oktober 2021 – 7 Januari 2022 senilai Rp45 miliar. Sehingga saldo utang setelah dilakukan pembayaran akan menjadi Rp205 miliar dari Rp250 miliar per 7 Oktober 2021.

Kedua, 8,5% akan digunakan untuk belanja modal antara lain untuk renovasi toko, pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan omni-channel, serta ekspansi toko baru. Ketiga, 74,6% akan digunakan untuk modal kerja antara lain untuk keperluan peningkatan kualitas persediaan melalui pembelian barang dagangan dari pemasok.

Nantinya, apabila dana hasil PUT VI tidak mencukupi untuk membiayai modal kerja perseroan akan mencari sumber pembiayaan lainnya, antara lain melalui penambahan fasilitas kredit yang didapatkan dari perbankan. Apabila perseroan tidak berhasil mendapatkan seluruh dana hasil PUT VI yang diharapkan, urutan prioritas penggunaan dana secara berurutan adalah untuk pembayaran sebagian pokok utang, belanja modal dan modal kerja perseroan.

Adapun risiko dalam hal dana yang diperoleh dari PUT VI tidak sesuai rencana adalah modal kerja perseroan tidak akan berada dalam posisi yang optimum untuk mendukung strategi ritel perseroan ke depan dikarenakan adanya keterbatasan dalam memperoleh barang-barang dagangan yang dibutuhkan dari pemasok. Kemudian, apabila perolehan dana dari PUT VI tidak sesuai rencana maka manajemen perseroan memiliki rencana untuk membatasi modal kerja.

Di samping itu, perseroan berupaya untuk memaksimalkan perputaran arus kas dari hasil operasional ritel dan memperoleh alternatif tambahan sumber pendanaan baru dari perbankan dan kreditur. Adapun setiap pemegang 45 saham biasa atas nama yang namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada tanggal 7 Desember 2021 pukul 16.15 WIB akan mendapatkan 7 HMETD di mana 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru dengan nilai nominal Rp50 setiap saham, dengan harga pelaksanaan Rp760 setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan pemesanan pembelian saham.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini