Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berpose di Liberty Bell, Sri Mulyani Ceritakan Sejarah Keuangan AS

Zikra Mulia Irawati , Jurnalis-Senin, 18 Oktober 2021 |10:16 WIB
Berpose di Liberty Bell, Sri Mulyani Ceritakan Sejarah Keuangan AS
Sri mulyani foto di Liberty Bell (Foto: Instagram)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani berpose bersama jajaran Kemenkeu di dekat Liberty Bell (Lonceng Kebebasan). Liberty Bell terletak di pintu masuk gedung Kementerian Keuangan Amerika Serikat (US Treasury Building).

Ini adalah replika dari Liberty Bell asli yang berada di Pennsylvania. Sri pun teringat akan sejarah perekonomian AS karena hal ini.

Baca Juga: Foto di Depan Monumen Washington, Sri Mulyani: Mirip Monas Kita

"Cerita menarik mengenai Keuangan Amerika Serikat (AS) dikaitkan semangat Kemerdekaannya. Waktu Perang Dunia Pertama 1914-1918, AS butuh biaya perang sangat besar. Sumber dana perang hanya tiga: (1) Memungut dan menaikkan Pajak, (2) Utang, atau (3) Mencetak Uang yang tentu menimbulkan inflasi," tuturnya, dikutip di Jakarta, Senin (18/10/2021).

Selama masa perang, Menkeu sekaligus Ketua Bank Sentral (Federal Reserve) kala itu, William McAdoo, menetapkan pendanaan perang sepertiga berasal dari pajak dan dua pertiganya berasal dari utang. Pajak progresif dinaikkan. Untuk penduduk yang sangat kaya dengan pendapatan di atas USD1 juta, pajak yang harus dibayarkan sangat tinggi yaitu 77%.

Baca Juga: Sri Mulyani Minta Bank Dunia dan IMF Lakukan Ini

US Treasury kemudian menerbitkan Liberty Bonds empat kali (1917-1918) dan satu kali Victory Bonds (1919). Denominasi Liberty Bond terkecil $50 (setara 1/2 bulan gaji pekerja pabrik), jangka waktu 30 tahun, suku bunga 3,5%, 4%, 4,25%. Masyarakat dapat membeli dengan mencicil 25 sen (tahun 1917 upah buruh per jam 35 sen).

Dengan surat utang Liberty dan Victory ini, AS mampu mengumpulkan dana lebih dari USD17 miliar atau setara USD6,5 triliun nilai saat ini (Rp95.950 triliun dengan kurs Rp14.300 per USD). Sebanyak 68% rakyat Amerika membeli surat utang Liberty dan Victory untuk membiayai Perang Dunia Pertama. Sedangkan USD8,8 milyar biaya perang diperoleh dari pajak.

Belanja perang AS terhitung besar. Sebelum Perang Dunia I (1913-1916) belanja pemerintah federal AS dalam setahun hanya USD750 juta. Namun, belanja federal untuk perang pada tahun 1919 melonjak hingga USD18,5 miliar.

"Sejarah, data dan fakta memberikan perspektif dan kesempatan kita belajar, agar mampu menghadapi tantangan kedepan dan terus menempuh perjuangan mencapai cita-cita bangsa kita sendiri. Tidak ada cita-cita dicapai tanpa perjuangan!" pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement