Share

Harga Nikel Naik, PP Presisi (PPRE) Siapkan Capex Rp500 Miliar

Anggie Ariesta, Jurnalis · Kamis 11 November 2021 17:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 11 278 2500375 senior-executive-analyst-otoritas-jasa-keuangan-ojk-roberto-akyuwen-ZHUhdwy76J.jpg PP Presisi siapkan capex Rp500 miliar (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - PT PP Presisi Tbk (PPRE) mengembangkan jasa pertambangan sebagai sumber recurring income. Perseroan melihat peluang dari peningkatan harga nikel yang terus melonjak didorong oleh permintaan akan bahan baku baterai yang ditandai oleh pembangunan smelter dan pabrik pembuatan baterai.

Direktur Utama PPRE Rully Noviandar mengatakan, kinerja lini bisnis jasa pertambangan yang cukup menggembirakan dalam waktu yang relatif singkat ini akan mendapat kepercayaan dari salah satu tambang nikel terbesar di Indonesia.

Baca Juga: RUPSLB, PP Presisi Rombak Komisaris dan Direksi

“Kami menargetkan jasa pertambangan akan memberikan kontribusi sebesar 50%, terbesar di antara lini bisnis lainnya pada tahun 2025," ujar Rully dalam paparan publik tahunan, Kamis (11/11/2021).

Maka itu, guna mencapai tujuan tersebut, PPRE telah menyusun winning target 2022 melalui strategi optimalisasi alat berat, peningkatan kapasitas keuangan, peningkatan kapabilitas SDM, penerapan centralize SCM, dukungan IT & equipment technology, dan peningkatan tata kelola Perusahaan.

Baca Juga: PP Presisi Dapat Pinjaman Rp200 Miliar untuk Modal Kerja

"Sehingga jasa pertambangan yang terintegrasi dapat segera terwujud yang akan memberikan better profit, stakeholder value added dan better cashflow”, tambah Ruly.

Oleh karena itu, Direktur Keuangan PP Presisi Benny Pidakso menambahkan, PPRE telah menganggarkan capex yang diestimasi mencapai Rp 500 miliar, yang sebagian besar dialokasikan sebagai capex expanding untuk mining services pada tahun depan untuk menambah jumlah fleet yang dibutuhkan seiring dengan penambahan kontrak baru.

“Untuk membiayai capex tersebut, kami merencanakan untuk mengeluarkan obligasi pada kuartal kedua 2022”, ujar Benny.

Benny menambahkan bahwa, perolehan kontrak baru per Oktober 2021 telah mencapai Rp4,8 triliun meningkat sebesar 129% YoY dari Rp2,1 triliun, periode yang sama tahun lalu dan melampaui target 2021 sebesar 133%, yang mana 49% merupakan kontrak jasa pertambangan.

“Dan diprognosakan akan mencapai Rp5,3 triliun hingga Desember 2021. Sedangkan Revenue & Ebitda diprognosakan masing-masing mencapai sebesar Rp3,1 triliun dan Rp940 miliar,” tutup Benny.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini