Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah

Antara, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 07:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 320 2503535 harga-minyak-dunia-turun-ke-level-terendah-VBTwUQCu5h.jpg Harga Minyak Dunia (Foto: Reuters)

JAKARTA - Harga minyak merosot pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), ke level penutupan terendah sejak awal Oktober, setelah OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan kelebihan pasokan yang akan datang dan meningkatnya kasus Covid-19 di Eropa meningkatkan risiko penurunan pemulihan permintaan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari anjlok 2,15 dolar AS atau 2,6%, menjadi ditutup pada 80,28 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember jatuh 2,4 dolar AS atau 3%, menjadi menetap di 78,36 dolar AS per barel.

Penurunan membawa Brent ke penutupan terendah sejak 1 Oktober dan minyak mentah AS ke penyelesaian terendah sejak 7 Oktober.

Para pedagang mengatakan tindakan pasar baru-baru ini menunjukkan dana-dana menimbang kemungkinan yang lebih besar bahwa pasokan akan mulai melebihi permintaan dalam beberapa bulan mendatang, dengan penurunan tajam dalam kontrak berjangka jangka pendek yang menunjukkan dana-dana menutup posisi beli.

"Ini menandakan pergerakan menuju keseimbangan yang belum pernah kita lihat selama berbulan-bulan," kata Tony Headrick, analis energi di CHS Hedging.

Pasar minyak global telah difokuskan pada peningkatan permintaan yang cepat terhadap peningkatan pasokan yang lambat dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, bersama dengan keengganan dari pemain serpih besar AS untuk membelanjakan lebih banyak pada pengeboran.

Baca Juga: Harga Minyak Galau Imbas Lonjakan Kasus Covid-19

Namun, baik IEA maupun OPEC dalam pekan terakhir mengatakan lebih banyak pasokan bisa datang dalam beberapa bulan ke depan. OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, telah mempertahankan kesepakatan untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan agar tidak membanjiri pasar dengan pasokan.

Pada Selasa (16/11/2021), Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan kelompok itu melihat tanda-tanda peningkatan pasokan minyak mulai bulan depan, menambahkan anggota dan sekutunya harus "sangat, sangat berhati-hati."

Negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, telah meminta OPEC+ untuk meningkatkan produksi lebih cepat. Amerika Serikat telah mempertimbangkan untuk mengumumkan pelepasan darurat minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR)-nya, yang mengandung lebih dari 600 juta barel minyak.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Beragam, Investor Khawatirkan Stok dan Permintaan

Dalam apa yang mungkin merupakan sinyal kemungkinan itu, dalam dua minggu terakhir Departemen Energi AS telah menjual lebih dari 6 juta barel minyak - bagian dari penjualan yang disetujui sebelumnya.

Amerika Serikat saat ini memiliki keleluasaan untuk menjual beberapa juta barel dari SPR berkat persetujuan Kongres sebelumnya. Analis JP Morgan mengatakan pada Rabu (17/11/2021) bahwa Gedung Putih dapat mempercepat penjualan tersebut daripada menyatakan keadaan darurat - menyebutnya sebagai "opsi termudah yang dimiliki Gedung Putih" untuk memerangi kenaikan harga bahan bakar.

IEA telah mengatakan bahwa pasokan AS diperkirakan akan meningkat pada laju yang lebih cepat pada kuartal kedua 2022, dan jumlah rig AS telah meningkat, dengan operator swasta berusaha untuk mengambil keuntungan dari harga minyak mentah yang lebih tinggi.

IEA memperkirakan produksi AS akan mencapai sekitar 60% dari perkiraannya sebesar 1,9 juta barel per hari (bph) untuk pertumbuhan pasokan non-OPEC pada 2022.

Persediaan minyak mentah AS turun 2,1 juta barel pekan lalu, data terbaru pemerintah menunjukkan, bertentangan dengan ekspektasi analis untuk peningkatan 1,4 juta barel. Namun, Headrick mencatat bahwa peningkatan moderat dalam persediaan di pusat utama Cushing, Oklahoma sebesar 213.000 barel adalah sinyal bahwa penarikan akhir-akhir ini mungkin akan segera berakhir.

Gelombang baru kasus COVID-19 di Eropa telah mendorong beberapa pemerintah untuk memberlakukan kembali pembatasan, termasuk Austria, yang telah memerintahkan penguncian pada individu yang tidak divaksinasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini