Soal Opsi Kurangi Saham Garuda, Erick Thohir: Masih Terlalu Jauh

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 19 November 2021 18:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 19 320 2504536 soal-opsi-kurangi-saham-garuda-erick-thohir-masih-terlalu-jauh-iaDLk9IWSs.jpg Erick Thohir (Foto: Dok BUMN)

JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir buka-bukaan soal rencana pengurangan saham negara (dilusi) di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Erick Thohir memastikan rencana belum akan dilakukan. Sebab, negosiasi dan restrukturisasi utang Garuda senilai Rp139 triliun masih diupayakan.

Restrukturisasi utang dengan kreditur dan lessor menjadi opsi utama untuk membenahi struktur keuangan emiten dengan kode saham GIAA itu. Karena itu, dilusi saham negara dinilai masih terlalu dini untuk dilakukan saat ini.

"Masih terlalu jauh. Kalau Garuda sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa kembali, kita mesti fokus restrukturisasi Garuda. Di mana, harga sewa yang terlalu mahal, kita harus negosiasi ulang. Dan ada kasus korupsi sudah diproses oleh KPK, kita harus lakukan itu. Sama seperti kita membenahi Jiwasraya, kan sama," ujar Erick saat ditemui di kawasan Hotel Indonesia, Jumat (19/11/2021).

Baca Juga: Selamatkan Garuda, BUMN Buka Opsi Tukar Utang dengan Saham

Menurutnya, restrukturisasi besar-besaran harus dilakukan karena harga dan bunga sewa pesawat masih terlalu mahal. Tercatat, bunga sewa maskapai penerbangan pelat merah itu mencapai 26 persen atau paling tinggi dunia.

"Dalam konteks Garuda, Garuda harus melakukan restrukturisasi besar-besaran ketika harga sewa masih terlalu mahal," ujarnya.

Usai restrukturisasi, pihaknya akan mengarahkan Garuda Indonesia untuk menggarap rute penerbangan domestik. Dalam hitungan pemegang saham, 78% penumpang menggunakan jasa pesawat untuk bepergian antarpulau.

Bahkan, turis lokal berkontribusi sebanyak Rp1.400 triliun. Sedangkan 22% atau sekitar Rp300 triliun berasal dari turis mancanegara.

"Setelah restrukturisasi, kita fokus pada domestik market. Kita bandingkan dengan domestik penerbangan di banyak negara, Amerika Serikat negara yang sangat besar, fokus pada domestik market, apakah yang southwest, kontinental, united semuanya fokus ke situ, kita harus ke situ. Ini bisnis model," tutur dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo meminta dukungan Komisi VI DPR manakala opsi dilusi memungkinkan untuk dilakukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini