Share

Indonesia Dapat Utang Lagi Rp2,1 Triliun dari ADB

Michelle Natalia, Sindonews · Rabu 16 Februari 2022 11:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 16 320 2548073 indonesia-dapat-utang-lagi-rp2-1-triliun-dari-adb-VXIfHGFNkG.jpg Indonesia dapat utang lagi Rp2,1 triliun. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) telah menyetujui pinjaman Indonesia sebanyak USD150 juta atau setara Rp2,14 triliun (kurs Rp14.300 per USD) yang bertujuan untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia dari pandemi Covid-19.

Serta untuk mendukung proyek infrastruktur hijau dan membantu negara mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sustainable Development Goals Indonesia One–Green Finance Facility (SIO-GFF), yang pertama dari jenisnya di Asia Tenggara, bertujuan untuk membiayai setidaknya 10 proyek, dengan 70% untuk mendukung infrastruktur hijau dan sisanya SDGs.

 BACA JUGA:Utang Luar Negeri RI Turun Lagi, Kini Tinggal Rp5.932 Triliun! Kapan Lunasnya?

Fasilitas tersebut akan merancang proyek-proyek yang bankable untuk melengkapi pengeluaran publik, termasuk dari sumber swasta, institusi, dan komersial.

“SIO-GFF bertujuan untuk mengkatalisasi hingga 8 kali lipat dari dana yang diinvestasikan untuk mendukung infrastruktur ramah iklim dan membantu Indonesia membuat kemajuan menuju SDGs,” kata Kepala Unit Keuangan Hijau dan Inovatif ADB untuk Asia Tenggara dan Country Director untuk Thailand Anouj Mehta dalam keterangan resminya pada Rabu(16/2/2022).

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dia mengatakan, ini akan mendorong pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan mempercepat pemulihan negara dengan memadati modal hingga menciptakan lapangan kerja.

Pinjaman Pemerintah Indonesia akan dipinjamkan kembali kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), atau PT SMI, lembaga pembiayaan infrastruktur milik negara yang akan mengelola fasilitas tersebut.

 BACA JUGA:Bayar Utang, Sampoerna Agro Bakal Terbitkan Obligasi Rp830,4 Miliar

ADB juga menyetujui bantuan teknis untuk membantu memperkuat kemampuan PT SMI dalam mengimplementasikan fasilitas.

Bantuan teknis didanai dengan USD1,2 juta dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia dan USD375.000 dari Dana Khusus Kemitraan Pengembangan Sektor Keuangan Luksemburg.

“Indonesia adalah penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar kelima di dunia dan menyumbang lebih dari setengah emisi GRK di Asia Tenggara,” jelasnya.

Dengan model keuangan inovatif yang menggabungkan standar hijau global, SIO-GFF akan membantu Indonesia fokus pada infrastruktur yang tahan iklim saat pulih dari pandemi COVID-19.

"Kami berharap dapat membangun pengalaman kami di Indonesia untuk memperluas pendekatan ke negara-negara lain di kawasan ini," ucapnya.

Kebutuhan pembiayaan infrastruktur tahunan yang disesuaikan dengan iklim Indonesia dari tahun 2016 hingga 2020 diperkirakan rata-rata mencapai USD74 miliar, dengan kesenjangan pembiayaan infrastruktur tahunan sebesar USD51 miliar.

 BACA JUGA:Penyebab Turunnya Utang Indonesia Jadi Rp5.932 Triliun

Fasilitas ini berupaya membantu mengelola risiko kredit selama siklus hidup proyek, terutama fase konstruksi dan tahun-tahun awal operasi komersial ketika arus kas negatif.

Di mana fasilitas tersebut menawarkan pinjaman, tetapi juga dapat memberikan ekuitas, hutang yang dapat dikonversi, dan jaminan, untuk mengurangi risiko kredit proyek dan menarik pemberi pinjaman komersial.

Proyek ini sejalan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 Indonesia.

Ini mengikuti strategi kemitraan negara ADB untuk Indonesia, 2020–2024, yang berfokus pada percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan ketahanan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini