JAKARTA – Konflik Rusia-Ukraina dimulai pada Kamis (24/2/2022) lalu. Perang ini terjadi setelah ketegangan yang kian meningkat selama berbulan-bulan antara kedua negara.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (21/2/2022) mengakui pembentukan dua negara di wilayah separatis Ukraina timur.
Berikut fakta perang Rusia-Ukraina yang dirangkum di Jakarta, Minggu (6/3/2022).
1. Sektor Ini Justru Raup Untung Besar
Perang Rusia-Ukraina diprediksi berlangsung lama, setelah tewasnya Jenderal Republik Chechnya Ramzan Kadyrov oleh rudal pasukan Ukraina. Melihat kondisi tersebut, ada beberapa sektor yang diprediksi bakal diminati investor selama perang ini belum berakhir.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada pekan lalu bahwa harga emas dan komoditas diprediksi bakal terbang lagi, terutama minyak Brent. Hal itu karena minyak Brent merupakan bahan bakar pesawat (Avtur).
"Sesuai dengan prediksi harga emas dan minyak mentah terjadi GAP UP. Untuk emas dari USD1882 terbang ke USD1930, minyak WTI USD90 ke USD99," kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (28/2/2022). Tak hanya emas dan komoditas seperti minyak, indeks dollar juga ikut melesat dari USD96,50 menjadi USD97,50.
2. Investor Gelisah
Wall Street berakhir lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), berbalik melemah setelah naik tajam di sesi sebelumnya, dengan saham-saham pertumbuhan termasuk Tesla dan Amazon menekan Nasdaq, karena krisis Ukraina membuat investor terus gelisah.
Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,29% atau 96,69 poin, menjadi menetap di 33.794,66 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 0,53% atau 23,05 poin, menjadi berakhir di 4.363,49 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 1,56% atau 214,07 poin, menjadi ditutup di 13.537,94 poin.
Tesla anjlok 4,6% dan Amazon kehilangan 2,7%, keduanya berkontribusi lebih banyak daripada saham lainnya terhadap penurunan tajam Nasdaq.
3. Harga Emas Kian Mahal
Harga emas menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), bangkit dari penurunan sehari sebelumnya saat dilanda aksi ambil untung, karena meningkatnya konflik Rusia dan Ukraina dan melonjaknya inflasi menjaga permintaan terhadap aset safe-haven emas tetap kuat.
Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak 13,6 dolar AS atau 0,71%, menjadi ditutup pada 1.935,90 dolar AS per ounce.
Harga emas berjangka tergelincir 21,5 dolar AS atau 1,11% menjadi 1.922,30 dolar AS pada Rabu (2/3/2022), setelah melonjak 43,1 dolar AS atau 2,27% menjadi 1.943,80 dolar AS pada Selasa (1/3/2022), penyelesaian tertinggi dalam 13 bulan.
4. RI Diminta Antisipasi
Konflik Rusia-Ukraina terus berlanjut dan berdampak pada rantai pasok komoditas dari dua negara ini. Hal tersebut menimbulkan kenaikan harga yang cukup tajam.
Indonesia dinilai harus melakukan mitigasi dampak perang Rusia-Ukraina ini karena eskalasi konflik kedua negara menambah beban berat pemulihan ekonomi Indonesia imbas pandemi Covid-19.
"Selama ini Bank Indonesia dan pemerintah yaitu Kementerian Keuangan selalu membicarakan exit strategy dari kondisi pandemi ini. Dengan adanya konflik ini, exit strategy ini pastinya akan lebih sulit lagi, lebih menantang lagi," kata Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dalam IDX Channel Market Review, Jumat (4/2/2022).
Lebih lanjut, di satu sisi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok seperti minyak, gas, dan komoditi lainnya harus diimbangi dengan kebijakan moneter yang tepat. Di sisi lain, ekonomi Indonesia harus lebih ekspansif untuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi.
5. Jadi Peluang Ekspor untuk RI?
Indonesia disebut bisa memanfaatkan peluang ekspor sejumlah komoditas ke sejumlah negara yang pasokannya terhenti akibat perang Rusia-Ukraina.
Di tengah konflik ini, Indonesia dinilai dapat memanfaatkan kesempatan mengekspor sejumlah komoditas.
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengingatkan, peluang ini bisa diambil namun harus memperhatikan sejumlah hal.
"Di satu sisi, ini jadi peluang ekspor Indonesia, tapi kan kita butuh juga. Seperti batu bara, Januari kemarin moratorium ekspor, dikhawatirkan ini akan menimbulkan kelangkaan energi," ujar Yose dalam IDX Channel Market Review, Jumat (4/3/2022).
6. Harga Batu Bara Merosot Tajam
Harga batu bara dunia mengalami koreksi cukup signifikan, setelah reli beruntun dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data pasar ICE Newcastle, Jumat (4/3/2022) hingga pukul 13:54 WIB, harga batu bara kontrak Maret 2022 merosot -15,91% di USD370 per ton, setelah sempat menyentuh pucuknya di USD440 per ton.
Kontrak batu bara April 2022 turun -19,63% di USD358,45 per ton, kendati sempat berada di level USD446 per ton. Kontrak batu bara Mei 2022 merosot -19,63% di USD345,45 per ton.
Kenaikan harga komoditas energi mulai batu bara, minyak, dan gas, mendapat dorongan dari agresi militer Rusia ke Ukraina.
Serangan telah memasuki minggu kedua. Konflik keduanya dinilai bakal terus mengganggu aliran bahan baku global.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.