Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Emas Tembus USD2.000, Kian Diburu di Tengah Perang Rusia-Ukraina

Antara , Jurnalis-Rabu, 09 Maret 2022 |06:07 WIB
Harga Emas Tembus USD2.000, Kian Diburu di Tengah Perang Rusia-Ukraina
Harga emas hari ini tembus USD2000. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Emas hari ini, Rabu (9/3/2022) tembus diangka USD2.000, di mana kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, melonjak USD47,4 atau 2,37 persen menjadi ditutup pada USD2.043,30 per ounce.

Kemudian, Emas menetap di atas angka USDD2.000 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2020.

Ini merupakan penyelesaian tetap di bawah rekor tertinggi USDD2.069,40 pada 6 Agustus 2020.

Itu terjadi karena setelah investor menuju logam safe-haven tradisional di tengah meningkatnya kekhawatiran seputar krisis Rusia-Ukraina.

 BACA JUGA:Harga Emas Tembus Rp 1.019.000/Gram, Saatnya Jual?

Sehingga, AS dan Inggris mengatakan mereka akan melarang minyak dari Moskow dan meningkatnya risiko inflasi.

"Kombinasi harga-harga energi, harga biji-bijian, harga logam dasar yang melambung, memuncak dalam tekanan inflasi dramatis yang terus menjadi dukungan utama di balik pergerakan emas yang lebih tinggi," kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures David Meger.

"Selain itu, kami melihat sejumlah besar tawaran safe-haven di pasar emas karena pasar ekuitas berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran besar di bidang geopolitik," tambahnya.

Diketahui juga, emas menemukan dukungan tambahan karena indeks optimisme bisnis kecil Federasi Nasional Bisnis Independen turun ke 95,7 untuk bulan kedua berturut-turut pada Februari, turun dari 97,1 pada Januari dan level terendah sejak Januari 2021.

 BACA JUGA:Harga Emas Dekati Level USD2.000, Tertinggi sejak 2020

Lalu, untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 1,175 dolar AS atau 4,57 persen, menjadi ditutup pada 26,895 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik 36,6 dolar AS atau 3,28 persen, menjadi ditutup pada 1.153,2 dolar AS per ounce.

"Hanya dalam beberapa bulan, dunia berubah dari membenci emas karena ekspektasi untuk pemulihan ekonomi global yang kuat mengurangi permintaan untuk safe-haven, sekarang menjadi khawatir tentang risiko stagflasi dan resesi," jelas Analis di Platform Perdagangan Daring OANDA Ed Moya

"Emas akan terus berjalan dengan baik karena sanksi intensif dari Barat akan terus mendorong volatilitas yang terus-menerus di seluruh komoditas yang akan terus mendorong ekspektasi inflasi ke tingkat yang tidak nyaman bagi para bankir sentral," tambahnya.

Untuk emas yang telah meningkat lebih dari 12 persen tahun ini, dinilai sebagai penyimpan nilai yang aman selama masa ketidakpastian geopolitik dan kenaikan inflasi.

Adapun melonjaknya harga minyak dan perang Ukraina telah membanting selera terhadap aset-aset berisiko dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, dolar yang lebih lemah juga mendukung emas.

Selain itu, untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia, Presiden AS Joe Biden pada Selasa (8/3/2022) mengumumkan larangan impor minyak AS dan energi lainnya dari Rusia, dan memperingatkan bahwa harga minyak dapat meningkat lebih lanjut.

Inggris mengatakan akan menghentikan impor minyak dan produk minyak Rusia pada tahun 2022.

Pada Senin (7/3/2022), emas berjangka terdongkrak USD29,3 atau 1,49 persen menjadi USD1.995,90, setelah melambung USDD30,7 atau 1,59 persen menjadi USD1.966,60 pada Jumat (4/3/2022), dan meningkat USD13,6 atau 0,71 persen menjadi USD1.935,90 pada Kamis (3/3/2022).

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement