Share

Pengumuman! AS Resmi Larang Impor Minyak dan Gas dari Rusia

Tim Okezone, Okezone · Rabu 09 Maret 2022 06:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 09 320 2558546 pengumuman-as-resmi-larang-impor-minyak-dan-gas-dari-rusia-K1dguNjMoO.jpg AS larang impor minyak dan gas ke Rusia. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan larangan impor minyak dan gas ke Rusia, Selasa (8/3/2022).

Melansir VOA Indonesia, bahkan, warga Amerika berinvestasi di sektor energi Rusia.

Hal itu merupakan langkah terbaru Amerika untuk menekan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Hari ini saya mengumumkan bahwa Amerika menarget piranti utama dalam perekonomian Rusia. Kami melarang semua impor minyak, gas dan energi Rusia. Ini berarti minyak Rusia tidak lagi diterima di pelabuhan-pelabuhan Amerika, dan rakyat Amerika memberikan pukulan keras lain pada mesin perang Putin,” ujarnya dalam cuitan Twitter.

 BACA JUGA:Dubes Ukraina Buka-bukaan soal Rekrut Tentara Bayaran Lawan Rusia, Digaji Berapa?

Menurut Biden, Putin adalah salah satu orang terkaya di dunia, yang menurut para kritikusnya telah mengisi kantongnya dengan perolehan secara tidak sah dari negara-negara pengekspor energinya.

Kini, Amerika pun resmi melarang semua impor minyak mentah, produk minyak bumi, gas alam, batu bara dan produk batu bara.

Diketahui, Amerika setiap hari mengimpor 700.000 barel minyak mentah dan produk minyak olahan dari Rusia, atau jauh dari 4,5 juta minyak Rusia yang diekspor ke Eropa setiap hari pada 2021.

“Kita bergerak memajukan larangan ini karena memahami bahwa banyak sekutu dan mitra kita di Eropa mungkin tidak dalam posisi untuk bergabung dengan kita. Amerika memproduksi lebih banyak minyak di dalam negeri dibanding Eropa, bahkan dibanding gabungan seluruh negara di Eropa. Faktanya, kita merupakan ekportir energi bersih. Jadi kita dapat mengambil langkah ini ketika yang lainnya tidak dapat melakukan hal tersebut. Tetapi kita bekerjasama erat dengan Eropa dan mitra-mitra lainnya untuk mengembangkan strategi jangka panjang guna mengurangi ketergantungan pada energi Rusia,” katanya.

Lalu, dia juga menyebut anggota-anggota Badan Energi Internasioal (IEA) telah setuju untuk mengeluarkan secara kolektif 60 juta barel minyak mentah dari cadangan minyak strategis.

Adapun Amerika berkomitmen menggelontorkan separuh dari jumlah itu.

Lalu, Biden mengatakan, telah menerima dukungan dari sekutu dan pengecam politiknya.

Mereka adalah Senator Partai Republik Kevin Cramer dari negara bagian North Dakota.

"Kebijakan ini merupakan langkah penting bagi dunia," ucap Kevin Cramer

“Putin bergantung pada pendapatan yang berasal dari penjualan energi – sebagian ke Amerika – sementara kita memiliki minyak dan gas yang lebih dari cukup bagi kita sendiri dan sebagian besar dunia," tambahnya.

 BACA JUGA:Ngeri! Anonymous Bajak Siaran TV Rusia, Tampilkan Pesan Hentikan Perang di Ukraina

Cramer mengatakan kalau minyak adalah senjata besar Putin.

"Mengingat minyak adalah senjata bagi Putin, maka sudah waktunya pemerintah Biden mengakui persenjataan energi ini. Larangan impor ini dirancang untuk melumpuhkan aliran keuangan Putin guna berperang melawan warga Ukraina yang mencintai kebebasan, dan sejumlah tujuan jahat lain," terangnya.

Terakhir, Biden juga telah berulang kali mengatakan tidak berniat mengirim pasukan Amerika ke Ukraina.

Namun, itu merupakan langkah yang kuat untuk mencegah Putin.

 BACA JUGA:Presiden Jokowi Sebut Perang Rusia Vs Ukraina Bisa Timbulkan Krisis Pengungsi Terbesar Sepanjang Abad

“Kemarin saya berbicara dengan mitra-mitra saya di Prancis, Jerman dan Inggris tentang bagaimana peningkatan kekerasan Rusia terhadap Ukraina dan langkah-langkah yang dapat kami ambil bersama dengan sekutu dan mitra-mitra di seluruh dunia guna menanggapi agresi ini,” tandas Biden.

“Kami memberlakukan paket sanksi ekonomi paling signifkan dalam sejarah dan menyebabkan kerusakan signifikan pada ekonomi Rusia," tambahnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini