“Perusahaan tambang tidak bisa meningkatkan produksi sedemikian cepatnya, hal itu sulit dan kapasitas sangat terbatas,” katanya, Rabu (8/4/2022).
Sebagai informasi, pemerintah Indonesia tahun ini menarget produksi sebanyak 663 juta ton, sementara para penambang berjuang untuk memenuhi pembatasan ekspor mendadak pada Januari serta dan hujan berkepanjangan yang mempengaruhi produksi.
Bahkan, negara itu juga telah memperketat pengawasan atas penjualan domestik setelah persediaan jatuh ke tingkat terendah di beberapa PLTB.
Sedangkan di Australia, produsen dihubungi oleh para pembeli yang bergantung pada batu bara Rusia dan dihubungi pemerintah agar membantu pembeli batu bara di negara-negara sekutu, seperti Polandia, untuk menggantikan pasokan dari Rusia.
BACA JUGA:Truk Batu Bara Dilarang Pakai Solar Subsidi
Adapun untuk mereka diuntungkan oleh lonjakan harga batu bara metalurgi yang digunakan di pabrik-pabrik baja dan juga batu bara termal untuk pembangkitan listrik, penambang Australia tidak dapat menambah produksi dengan cepat, dan sebagian besar volume yang mereka hasilkan sudah terikat kontrak dengan pelanggan tradisional.
Lantaran, produksi batu bara Australia terpukul oleh banjir di New South Wales juga Queensland, wabah Covid-19. Di sana juga terjadi kekurangan tenaga kerja.
Akibatnya, produksi tidak mencapai kapasitas penuh.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.