Share

Ini Masalah Utama Pengembangan Perbankan Syariah di RI

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Minggu 17 April 2022 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 17 320 2580257 ini-masalah-utama-pengembangan-perbankan-syariah-di-ri-TN6AgXVzxC.JPG Ilustrasi Bank Syariah Indonesia. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Direktur Penjualan dan Distribusi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI, Anton Sukarna memaparkan bahwa literasi merupakan masalah utama perbankan syariah.

Anton menilai pengetahuan masyarakat terhadap perbankan syariah masih lebih rendah dibandingkan perbankan konvensional.

"Sebagai perbandingan saja, kalau untuk di perbankan konvensional, itu sudah di atas 30 persen orang paham, sementara di perbankan syariah, itu baru 11 persen," kata Anton di pembukaan Istiqlal Halal Expo 2022, di pelataran Masjid Istiqlal, dikutip Minggu (17/4/2022).

 BACA JUGA:Wapres Tekankan Pentingnya Literasi Kehalalan Pasar Modal Syariah

Menurut Anton terdapat jarak antara pengetahuan masyarakat seputar bank syariah dengan penetrasi syariah yang ada di lapangan. Namun, menurutnya gap itu terpaut tipis.

"Jadi kalau kita bicara misalnya, literasi syariahnya 11 persen, maka penetrasinya ada di 8-9 persen," lanjutnya.

Padahal, literasi syariah menjadi modal utama untuk memacu industri syariah, termasuk industri halal dan turunannya.

Anton memandang sebagian besar masyarakat belum memiliki keinginan kuat untuk mempelajari seputar lembaga keuangan syariah, meskipun Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

"Saya yakin, bahwa orang ketika ingin membeli produk syariah, atau produk halal, dan orang itu punya keyakinan tentang itu, akan cenderung bertanya tentang sesuatu, atau mempelajarinya terlebih dahulu," ucapnya.

Baca Juga: Hindari Masalah Kesehatan yang Mungkin Timbul Setelah Penerbangan Jarak Jauh

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara, terkait produk non-syariah atau yang tidak memiliki jaminan kehalalan dinilai seringkali bukan menjadi masalah bagi masyarakat.

Alih-alih bertanya, sebagian masyarakat disebut cenderung abai atas hal itu.

"Untuk produk yang tidak ada kaitannya dengan syariah atau kehalalan, orang cenderung abai tentang hal itu. Sehingga tanpa tahu pun (halal atau tidak), orang akan cenderung membeli," jelasnya.

Anton memastikan BSI akan terus mengejar masalah ini agar dapat teratasi, atau minimal mengalami perubahan di masa depan.

 BACA JUGA:Strategi Bank Aladin Syariah (BANK) Perkuat Ekosistem Digital

Dirinya mengharapkan Indonesia dapat menjadi produsen produk halal nomor satu di tingkat global.

"Bagian fundamental dari keberadaan BSI adalah terkait syiar, perbankan syariah, ekonomi syariah, dan tentu saja syiar terkait dengan produk halal. Inshaallah, kesadaran orang yang membeli produk halal akan meningkat," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini