Share

Mengulas Sejarah Panjang Sumur Minyak Berusia 125 Tahun

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 22 Juni 2022 07:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 22 470 2615787 mengulas-sejarah-panjang-sumur-minyak-berusia-125-tahun-dYiCKdrNM1.jpg Sejarah panjang sumur minyak berusia 125 tahun.

JAKARTA - Kalimantan Timur, tepatnya Balikpapan memiliki sejarah panjang industri perminyakan di Indonesia.

Siang itu, ditengah terik matahari, Rabu, (22/6) rombongan Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan perwakilan KKKS (kontraktor kontrak kerjasama) mencoba menyusuri dan mengingat kembali historical Industri Hulu migas di Kalimantan Timur.

Sumur minyak

Kali ini lokasi yang dikunjungi Panitia Forum Kapasitas Nasional yang terdiri dari SKK Migas dan KKKS adalah Sumur Mathilda, sumur tua yang sudah berusia 125 tahun terletak di Jalan Yos Sudarso Balikpapan Selatan atau berada di wilayah Refinery Unit (RU) V Balikpapan.

 BACA JUGA:Sumur Minyak Meledak di Muba Terus Keluarkan Api Setelah 5 Bulan, Diprediksi Baru Padam 2 Tahun

Tepatnya, lokasi sumur minyak Mathilda berada di Ujung jalan kilang minyak Pertamina, tak jauh dari lokasi sumur, juga didirikan tugu kilang minyak untuk mengenang sejarah panjang Balikpapan sebagai kota minyak.

Sejarah menyebutkan Mathilda sendiri, konon diambil dari nama seorang noni-noni belanda, anak dari Jacobus Hubertus Menten (1833-1920), Pekerja perusahaan minyak yang juga seorang insinyur Belanda dan disebut-sebut menjadi penemu sumur pengeboran minyak pertama di Balikpapan.

Untuk menuju Sumur minyak Mathilda, tidak lah sulit karena sumur tersebut berada di kota atau tepatnya di wilayah kelurahan Prapatan kecamatan Balikpapan Selatan.

Sumur ini menjadi tonggak sejarah berdirinya kota Balikpapan karena disinilah pengeboran minyak di Kalimantan dilakukan pertama kali, atau pada tanggal 10 Februari 1897, sekitar 125 tahun lalu oleh pemerintah Belanda.

Data Badan Pengelola Cagar Budaya Kaltim mencatat, hampir satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 April 1898 Nedelandsch Indisch Indusrie en Handel Maatschappij (NIIHM) menemukan minyak pada kedalaman 180 Meter. Kala itu, produksi tahunan NIIHM mencapai 32,618 barrel minyak mentah yang berasal dari konsesi sumur minyak Louise dan Mathilde.

Sejak penemuan minyak pertama inilah, kegiatan pengeboran di Balikpapan terus berlangsung, bahkan mampu menghasilkan minyak dengan kualitas baik dan dalam jumlah besar, Balikpapan disebut-sebut sebagai kota minyak atau Oil City, dengan produksi 32.618 barrel per tahun, saat itu.

Tahun 1903 merupakan akhir cerita dari sumur Mathilda 1. Setelah beroperasi selama kurang lebih 6 tahun dengan total kumulatif 68,375 barrel, sumur Mathilda ini ditutup. Penutupan sumur Mathilda 1 ini, diduga karena menurunnya cadangan (natural flow) atau berkurangnya aliran minyak yang keluar, namun wilayah konsensi Mathilda saat ini masih beroperasi dan menjadi kawasan Refinerry Unit (RU) V Pertamina Balikpapan.

 Sumur minyak

Sumur Mathilda ini menjadi bukti Balikpapan merupakan daerah yang kaya hasil minyak bumi pada masa lampau. Namun, situs pengeboran pertama ini tidak terbuka untuk umum karena tertutup pagar yang dikelola Pertamina dan masuk kawasan obyek vital milik negara.

Kepala Divisi Pengeloaan Rantai Suplai dan Analisa Biaya SKK Migas, Erwin Suryadi saat mengunjungi sumur minyak Mathilda mengatakan, banyak fakta dan sejarah yang memperlihatkan kontribusi Industri hulu migas dalam pengembangan sebuah wilayah, termasuk peradaban. Menurutnya dalam kontek Indonesia, Industri hulu migas terbukti bisa menjadi lokomotif kemajuan suatu daerah dan perekonomian secara nasional.

“Industri Hulu migas menghasilkan Multiplier effect dan mendorong pergerakan ekonomi di setiap wilayah kerja migas dan ini tidak hanya terjadi di Balikpapan tapi juga di seluruh Indonesia,” ucap Erwin.

Berkembangnya kota Balikpapan tidak lepas dari peran masyarakat dan pemerintah daerah yang terus beradaptasi dengan berkembangnya Balikpapan sebagai kota minyak.

Sektor-sektor ekonomi, termasuk perusahaan-perusahaan lokal dengan kualitas nasional ikut bergerak dan dituntut untuk berkebang mendukung kebutuhan pengeboran minyak dan gas sebagai Industri penunjang.

Sektor penunjang industri migas inilah yang kemudian masuk dalam pembahasan Pra Forum Kapasitas Nasional Industri Hulumigas di Balikpapan (22-23 Juni 2022).

Selain mengunjungi sumur Mathilda, Tim Forum Kapasitas nasional 2022 juga melakukan napak tilas ke pemukiman pekerja migas yang dikenal dengan nama Gunung Dubs, yang masih terawat dengan pemandangan teluk Balikpapan.

Rombongan juga singgah ke Tugu Autralia yang memiliki cerita tentang masuknya tentara Jepang pertama kali masuk ke Indonesia melalui Tarakan dan Balikpapan, guna memperoleh sumur minyak.

Sejarah panjang industri hulu migas di Balikpapan Kalimantan Timur ini merupakan bukti bahwa Kota ini masih memiliki potensi cadangan Migas yang cukup tinggi dan Balikpapan merupakan inspirasi bagaimana kota dibangun dari aktifitas migas.

Bahkan hingga kini Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) masih menyumbangkan 30% minyak dan gas secara nasional, Tabik.

Penulis : Suhendra Atmaja – Praktisi Komunikasi Perminyakan

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini