Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IMF dan World Bank Pesimis soal Uang Digital, Begini Kata BI

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Selasa, 12 Juli 2022 |19:19 WIB
IMF dan World Bank Pesimis soal Uang Digital, Begini Kata BI
Rupiah. (Foto: Freepik)
A
A
A

BALI - IMF dan World Bank pesimistis terhadap rencana mata uang bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC).

IMF menilai uang digital bank sentral tidak menguntungkan bagi masyarakat maupun perbankan.

Sementara World Bank berpendapat bahwa CBDC tidak berdampak langsung pada tingkat inklusi keuangan. Adanya CBDC tak bisa menjamin akses masyarakat terhadap layanan keuangan meningkat.

Kendati banyak nada negatif, Bank Indonesia (BI) menilai perbedaan pendapat dalam pengembangan CBDC adalah hal yang wajar.

 BACA JUGA:Seperti IMF, World Bank Sebut Uang Digital Bank Sentral Tidak Berdampak ke Inklusi Keuangan

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ryan Rizaldy mengakui perdebatan di level global mengenai CBDC cukup alot.

"Diskusi di globalnya saja masih banyak perdebatan. Apakah CBDC bisa meningkatkan kualitas inklusi keuangan ada yang ragu ada juga yang pecara yang jelas ini jadi challenge bagi bank sentral," kata Ryan, di Nusa Dua Bali, Selasa (12/7/2022).

Sebelumnya, World Bank menilai CBDC sebagai sebuah program yang dipimpin oleh otoritas publik.

Uang digital bank sentral, lanjutnya, akan membawa perhatian pada beberapa masalah lama yang bertanggung jawab atas akses dan penggunaan yang lebih rendah.

"Seseorang dapat secara luas mengklasifikasikan mereka ke dalam biaya tinggi untuk memecahkan segmen pelanggan tertentu, biaya tinggi untuk akses, dan penggunaan dan kemudian kurangnya kasus penggunaan yang menarik," bebernya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada masalah mendasar yang perlu ditangani sebagai bagian dari peluncuran yang sukses. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatian selain dari fitur khusus dan fitur ekosistem CBDC yang dapat menganggu sistem keuangan sebelumnya.

"Pertama, masuknya pemain baru dan model bisnis dan distribusi baru. Dan di sini saya mengacu pada masuknya pemain non bank dan kemudian juga layanan berbasis agen dan model lainnya yang mungkin merupakan persyaratan nasabah yang lebih esensial, disederhanakan dan berjenjang," jelasnya.

Kemudian masalah kedua adalah CBDC harus cocok dengan berbagai faktor bentuk dan instrumen yang sudah nyaman bagi individu dan bisnis.

Dalam beberapa konteks, dia mengatakan, mungkin perlu jenis struktur yang mensimulasikan sedemikian rupa sehingga dapat diakses melalui ponsel atau alat digital lain.

"Saya pikir terakhir, perlindungan data dan privasi kami akan menjadi sangat-sangat penting. Dan khususnya, saya pikir privasi perlindungan data di sini tidak selalu berarti anonimitas penuh. Lebih kepada kenyamanan bahwa tanpa proses yang semestinya, data transaksi tidak disalahgunakan," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement