BALI - Ekonomi Sri Lanka bangkrut akan dibahas dalam pertemuan ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20.
Sebagaimana diketahui, ekonomi Sri Lanka bangkut dan Presidenya Gotabaya Rajapaksa mengundurkan diri. Sri Lanka pun tercatat memiliki utang sebesar Rp748 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan, selain krisis Sri Lanka, sejumlah tantangan dan risiko ekonomi global akan dibahas dalam sesi pertama. Seperti kemungkinan revisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi global, kenaikan inflasi, hingga krisis pangan.
"Agenda pertama akan sangat penting, isu aktual, yaitu perkembangan perekonomian global. Faktor-faktor kontribusi kinerja ekonomi global, baik IMF dan World Bank, OECD, kemungkinan revisi ke bawah, inflasi, harga pangan, harga energi, geopolitik, kita akan membahasnya semua di exit policy, dari situasi yang sangat menekan waktu itu," ujar Sri Mulyani di Nusa Dua, Rabu (13/7/2022).
Dia menegaskan, situasi ekonomi Sri Lanka saat ini sangat berbeda dengan Indonesia. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator ekonomi domestik juga dinilai masih stabil.
"Background setiap negara, kinerja pertumbuhan ekonomi, kinerja inflasi, neraca pembayaran, APBN, moneter, inflasi, nilai tukar. Kita siapkan langkah-langkah supaya bisa menanganinya," jelasnya.