Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bos BI: Pengendalian Inflasi Seperti Menegakkan Kemerdekaan

Michelle Natalia , Jurnalis-Rabu, 10 Agustus 2022 |10:59 WIB
Bos BI: Pengendalian Inflasi Seperti Menegakkan Kemerdekaan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: BI)
A
A
A

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melapor kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai kondisi inflasi.

Jokowi pun langsung menginstruksikan kepada semua menteri untuk mengendalikan inflasi.

Pada tanggal 18 Agustus mendatang, Perry menyebut bahwa akan digelar Rakornas Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan juga akan diberikan arahan langsung oleh Jokowi.

"Pengendalian inflasi pangan ini sangat penting seperti halnya perjuangan Pahlawan Bung Tomo dan para pahlawan kita, menegakkan kemerdekaan kita dari dampak global," ungkap Perry dalam acara Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) secara virtual, Rabu(10/8/2022).

Dia mengatakan, GNPIP ini perlu dilakukan untuk mengendalikan inflasi pangan sehingga rakyat bisa sejahtera.

Dunia saat ini sedang bergejolak, ekonomi pun sedang menurun menuju stagnasi atau resesi di berbagai negara.

Kemudian, harga minyak menyentuh USD101 per barel, pangan melambung tinggi di seluruh dunia, dan suku bunga maju naik sangat tinggi.

"Belum lagi masalah geopolitik, perang Rusia-Ukraina, di mana kedua negara tersebut adalah pemasok 20% energi dan pangan global. Itulah kenapa harga pangan dan energi global naik tinggi, inilah yang kita hadapi, dunia sedang bergejolak," jelasnya.

Dia menambahkan kalau tidak ada serangan langsung terhadap Indonesia.

"Inilah semangat proklamasi yang harus kita gerakkan pada tahun ini. Itulah kenapa, GNPIP ini sangat penting supaya Indonesia terus melaju mengembangkan ekonomi menuju Indonesia Maju, harga-harga pangan terkendali, dan rakyat sejahtera. Ini sangat penting," katanya.

Dalam kesempatan ini, dia sangat berterima kasih dan memberikan apresiasinya kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai pelopor gerakan ini.

"Alhamdulillah sinergi pemerintah dengan BI, berbagai lembaga, dan pemerintah daerah sangat baik sehingga ekonomi kita bisa tumbuh sangat tinggi 5,44%, tapi ini belum pulih. Karena rakyat baru mulai bisa makan enak setelah Ramadhan kemarin, sebelumnya belum bisa makan enak karena ada pandemi Covid-19," ungkapnya.

Dia mengatakan angka 5,44% tersebut patut disyukuri, apalagi raksasa ekonomi dunia seperti China tahun ini hanya tumbuh 3,3%.

Negara-negara lain pun tumbuhnya lebih rendah.

"Yang menjadi masalah adalah inflasi. Inflasi kita sudah hampir mencapai 5%, masih lebih rendah dari negara lain tadi, tapi kalau kita lihat, inflasi paling tinggi jika dipecah adalah dari inflasi pangan, 10,47%. Mestinya inflasi pangan itu tidak boleh lebih dari 5%, atau paling tinggi 6%. Ingat, inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat. Ini bukan masalah ekonomi saja, tapi masalah sosial dan masalah bagaimana nanti seterusnya jangan sampai ada masalah politik. Jadi mohon inflasi ini, layaknya kita menjaga kemerdekaan, jangan sampai daya beli masyarakat itu turun karena inflasinya, kita harus turunkan paling tidak, jadi 5%," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement