Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Penjual Bakmi: Saya Khawatir

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 12 Agustus 2022 |11:10 WIB
Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Penjual Bakmi: Saya Khawatir
Penjual bakmi. (Foto: BBC)
A
A
A

JAKARTA - Baru-baru ini masyarakat dikhawatirkan dengan kabar harga mi instan bakal naik tiga kali lipat.

Adapun kabar ini diakui penjual Bakmi begitu mengerikan.

Seorang penjual bakmi di Cengkareng, Desvi khawatir kalau harga mi instan akan naik tiga kali lipat karena bakal berdampak ke usahanya.

"Kok bisa naik tiga kali lipat? Saya khawatir dong. Soalnya gandum, beras, itu sudah kebutuhan pokok," ujar Desvi dikutip BBC, Jumat (12/8/2022).

 BACA JUGA:Bantah Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Mendag: Itu Supaya Kita Makan Singkong

Diketahui, Desvi sendiri sudah berjualan bakmi selama 10 tahun lamanya.

Dia bisa menjual bakmi tersebut sampai 30 porsi dalam sehari.

Kemudian, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa mengatakan konsumsi gandum di Indonesia dalam 30 tahun mendatang bisa mencapai 50% atau mengalahkan beras.

Dia juga mencatat angka konsumsi pangan lokal dari gandum di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di mana pada 1970-an porsi pangan lokal dari gandum di bawah 5%, pada 2010 sudah di angka 18%.

Dia juga menjelaskan kalau selang 10 tahun kemudian atau pada 2020, menurut data yang dimiliki Andreas, konsumsi gandum di masyarakat mencapai 26% dan tahun ini lebih dari 27%.

Menurutnya, membesarnya tingkat konsumsi gandum ini karena beberapa hal.

Pertama karena harganya murah. Sebelum konflik Ukraina dan Rusia meletus, harga tepung gandum berada di kisaran antara Rp8.500 - Rp9.000. Sementara tepung sorgum dan tapioka berkisar di antara Rp16.000 - Rp30.000 perkilogram.

Sehingga jika dibandingkan dengan beras kualitas medium, masih lebih murah.

"Lebih rendah dibanding beras medium yang harganya Rp10.400," ucapnya.

Lalu, yang kedua karena sesuai dengan selera orang Indonesia.

"Gandum ini mengubah selera dan pola makan. Itu dilakukan industri gandum puluhan tahun dengan mengeluarkan dana ratusan triliun. Anak sekarang disuruh makan pecel yang merupakan pangan lokal kita mau tidak? Tidak kan. Tapi kalau ditawari pizza, pasti langsung mau," jelasnya.

Ketiga, tidak adanya diversifikasi pangan. Sejak kebijakan menjadikan beras sebagai makanan pokok nasional di masa pemerintahan Orde Baru, konsumsi bahan pangan lokal seperti sagu, jagung, dan sorgum menurun.

Namun belakangan, konsumsi beras nasional juga mulai turun dan telah tergeser oleh gandum.

"Pertumbuhan konsumsi pangan dari gandum di Indonesia tiap tahun naik 16,5% bisa dibayangkan?" ucapnya.

Itu yang membuatnya memprediksi konsumsi gandum di Indonesia dalam 30 tahun mendatang bisa mencapai 50% atau mengalahkan beras.

Dia menambahkan kalau kondisi ini bukan suatu hal yang baik mengingat selama tiga tahun berturut-turut Indonesia menjadi negara importir gandum terbesar di dunia.

Bahkan, Badan Pusat Statitik (BPS) mencatat angka kebutuhan impor gandum Indonesia pada 2019 sebesar 10,69 ton, kemudian pada 2020 mencapai 10,29 ton, dan tahun 2021 naik menjadi 11,17 ton.

Dia mengatakan kalau Indonesia bisa kolaps kalau harga gandum dunia meroket seperti sekarang atau jika negara yang memproduksi gandum memutuskan menghentikan ekspornya.

"Kalau ada goncangan harga gandum dunia, kolaps lah Indonesia," tegasnya.

Sedangkan, Komisi IV DPR dari Partai PDI Perjuangan, Ono Surono, membenarkan pernyataan Andreas itu.

Dia merincikan kalau agalnya program diversifikasi pangan disebabkan tidak adanya rencana strategis pembangunan pertanian yang dibuat oleh pemerintah.

"Pemerintah harus punya blue print (cetak biru) pembangunan pertanian. Harus ada pola pembangunan berencana yang mengintegrasikan semua menjadi pegangan seluruh instansi pemerintah mulai dari pusat hingga desa," katanya.

Baginya, rencana strategis pembangunan pertanian itu isa dengan menyerahkan lahan mangkrak yang dikuasai korporasi untuk dikelola masyarakat menanam tanaman berbasis kearifan lokal.

Dalam skala lebih kecil, mendorong pertanian berbasis pekarangan rumah. Yaitu memanfaatkan kelompok ibu-ibu di tiap desa untuk menanam tanaman pangan.

"Ini harus diintegrasikan semua kekuatan pemerintah. Termasuk TNI-Polri, masyarakat juga harus dilibatkan. Kadang masyarakat diberi program tanpa didampingi, dipaksa cetak sawah padahal air susah," tuturnya.

"Sebab mau tidak mau, pangan menjadi kekuatan sebuah negara menghadapi ancaman ke depan. Kalau tidak diperhatikan, ya tidak akan kuat negara itu," tambahnya.

Dia juga turut mengungkapkan Kementerian Pertanian memiliki anggaran Rp90 triliun rupiah.

Di mana dana sebesar itu dapat difokuskan untuk program-program pertanian.

"Tinggal sekarang apakah itu (program pertanian) kurang menjadi fokus pemerintah?" terangnya.

Diketahui, kalau kabar kenaikan mi ini datang dari Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Dia mengatakan kalau harga mi instan bakal naik hingga tiga kali lipat menyusul melonjaknya harga gandum akibat perang Rusia-Ukraina.

"Jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum besok harga (naik) tiga kali lipat itu," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement