Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pria Ini Dibayar Rp1 Juta Padahal Tak Melakukan Apa-Apa, Kok Bisa Sih?

Agregasi VOA , Jurnalis-Rabu, 07 September 2022 |10:24 WIB
Pria Ini Dibayar Rp1 Juta Padahal Tak Melakukan Apa-Apa, Kok Bisa <i>Sih</i>?
Pria di Jepang dibayar Rp1 juta dari tidak melakukan apa-apa. (Foto: VOA)
A
A
A

JAKARTA - Pria di Jepang dikabarkan mendapat bayaran Rp1 juta untuk tidak melakukan apa-apa.

Dikutip VOA Indonesia, pria asal Jepang itu bernama Shoji Morimoto (38).

Di mana dia bekerja untuk setiap permintaan menjadi pendamping atau sekadar hanya menemani sang klien dengan bayaran 10.000 yen atau sekitar Rp1 juta.

 BACA JUGA:Panti Jompo Ini Rekrut Bayi untuk Dijadikan Penghibur Lansia, Dibayar Pakai Susu

"Pada dasarnya, saya menyewakan diri saya sendiri. Pekerjaan saya adalah berada di mana pun klien saya menginginkan saya dan tidak melakukan apa pun secara khusus," kata Morimoto kepada Reuters.

Bahkan, dalam empat tahun terakhir ini dia mendapat 4.000 permintaan.

Adapun Morimoto ini adalah pria dengan tubuh kurus dan memiliki penampilan rata-rata.

Kini, dia telah memiliki hampir seperempat juta pengikut di Twitter.

Sehingga dari situ dia mendapat klien.

Dia menyebut kira-kira 25% dari pengikutnya itu adalah pelanggan tetap, termasuk yang telah mempekerjakannya sebanyak 270 kali.

Dia mengungkapkan juga kalau pekerjaannya beragam. Itu karena dia pernah menemani kliennya yang ingin bermain jungkat-jungkit di taman.

Kemudian, di waktu lainnya dia harus tampil dengan muka berseri-seri dan melambai melalui jendela kereta api, melepas keberangkatan orang asing.

Namun, Morimoto juga pernah menolak tawaran untuk memindahkan lemari es dan pergi ke Kamboja.

Dia pun tidak menerima permintaan apapun yang berbau seksual.

Diketahui, seorang analis data berusia 27 tahun yang mengenakan pakaian sari, mengobrol ringan sambil minum teh dan kue dengan Marimoto.

Chida ingin mengenakan pakaian India di depan umum tetapi khawatir itu akan mempermalukan teman-temannya.

Akhirnya dia meminta tolong Morimoto untuk menemaninya pekan lalu.

"Dengan teman-teman saya, saya merasa harus menghibur mereka, tetapi dengan penyedia jasa sewa (Morimoto) saya tidak merasa perlu untuk mengobrol," kata Chida,

Sebelumnya, Morimoto pernah bekerja di perusahaan penerbitan dan sering dicaci.

Itu terjadi karena dia disebut tidak melakukan apa-apa.

"Saya mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika saya memberikan kemampuan saya untuk 'tidak melakukan apa-apa' sebagai layanan kepada klien," ucapnya.

Kini, bisnis pertemanan sekarang menjadi satu-satunya sumber pendapatan Morimoto.

Dari bisnis itu dia dapat menghidupi istri dan anaknya.

Namun, dia menolak untuk mengungkapkan berapa besar penghasilannya.

Dia memberitahu kalau mendapatkan sekitar satu atau dua klien sehari.

Saat sebelum pandemi, dia bahkan mendapat klien tiga atau empat orang per hari.

Dia sempat merenungkan sifat aneh pekerjaannya.

Itu dia lakukan saat sedang tak melakukan apa-apa di Tokyo.

Jasa tersebut tampaknya akan menimbulkan pertanyaan pada masyarakat yang menghargai produktivitas dan mencemooh ketidakbergunaan.

"Orang cenderung berpikir bahwa dengan saya 'tidak melakukan apa-apa,' saya menjadi berharga karena berguna (bagi orang lain) ... Tapi tidak apa-apa (sebenarnya) untuk tidak melakukan apapun (dalam suatu waktu). Orang tidak harus berguna dengan cara tertentu," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement