Share

Dana Asing Keluar Rp148,1 Triliun, Ada Apa Nih Bu Sri Mulyani?

Antara, Jurnalis · Senin 26 September 2022 17:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 26 320 2675351 dana-asing-keluar-rp148-1-triliun-ada-apa-nih-bu-sri-mulyani-DvKQZQ4biy.jpg Sri Mulyani. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyampaikan bahwa terdapat dana asing keluar sebesar USD9,9 miliar setara Rp148,11 triliun dari pasar obligasi negara emerging market alias pasar berkembang, termasuk Indonesia sejak Januari hingga 22 September 2022.

"Seluruh emerging market mengalami arus modal keluar dari sisi obligasi yang terjadi baik akhir bulan lalu, tiga bulan lalu, dan sejak awal tahun," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa September 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta yang dikutip Antara, Senin (26/9/2022).

Dia menyebut kondisi tersebut dipicu oleh volatilitas pasar keuangan akibat dinamika global saat ini, khususnya disebabkan oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang perlu terus diwaspadai.

 BACA JUGA:Sri Mulyani Kasih Bonus Rp10 Miliar ke 10 Provinsi Tekan Inflasi, Ini Daftarnya

Adapun pasca pertemuan The Fed pada bulan Juli 2022, sempat terjadi sentimen positif karena kenaikan suku bunga acuan dan pertumbuhan ekonomi AS yang sesuai ekspektasi pasar.

Dengan demikian hingga Agustus 2022, pasar obligasi Indonesia mencatatkan arus modal masuk sebesar Rp8,27 triliun.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Namun per September 2022, terjadi arus modal keluar dari pasar obligasi tanah air senilai Rp16,3 triliun.

Portofolio investor global masih overweight terhadap obligasi Indonesia.

Dia menyebutkan kondisi tersebut tak terlalu mengguncang Indonesia lantaran kepemilikan surat berharga negara (SBN) di Indonesia kini kian didominasi oleh investor domestik.

Kepemilikan asing terhadap SBN Indonesia per 22 September 2022 hanya 14,7%, menurun tajam dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 38,57%.

"Di satu sisi ini adalah menimbulkan stabilitas karena tidak kemudian mudah terguncang dengan arus modal asing yang keluar. Di sisi lain kita juga melihat bahwa pemegang obligasi kita sekarang didominasi oleh perbankan dan Bank Indonesia," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini