Share

Harga Beras Naik, Bagaimana Stoknya?

Suparjo Ramalan, MNC Portal · Rabu 23 November 2022 17:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 320 2713452 harga-beras-naik-bagaimana-stoknya-j8x1FMHkSR.JPG Beras. (Foto: MPI)

JAKARTA - Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) mengaku serapan beras sebesar 1,2 juta ton tidak akan terealisasi.

Pasalnya, harga gabah mengalami kenaikan.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mencatat harga gabah di lapangan berada di angka Rp4.200 hingga Rp5.500. Harga tersebut pun sulit diserap pemerintah melalui Perum Bulog.

"Hari ini untuk mencari gabah di lapangan dengan harga Rp4.200 sulit Bapak (DPR RI). Kemudian, dari laporan harga gabah juga diatas Rp5.000, ada juga di atas Rp5.500, tentunya ini rebutan gabah juga di market," ucap Arief saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (23/11/2022).

 BACA JUGA:Catat! Ini 3 Kriteria Beras yang Sudah Tak Layak Konsumsi

Badan Pangan Nasional, Bulog, hingga Holding BUMN Pangan atau ID FOOD memang bersepakat menyerap beras petani pada awal kuartal I setiap tahunnya, hanya saja pada tahun ini target serapan beras sebesar 1,2 juta ton sulit direalisasikan.

"Ini produksi beras dalam negeri, tetapi saya dengan Pak Buwas dengan teman-teman di BUMN Pangan sepakat bahwa apabila kita menyerap harus di semester pertama. Jadi kalau hari ini kami menyerap, minta diserap sekitar 1,2 juta ton memang sulit Pak, itu poinnya," jelasnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dia memang memberikan peringatan adanya bahaya menyusul serapan beras Bulog yang tidak sesuai dengan target. Arief mencatat bila Bulog tidak mampu menyerap beras sebesar 1,2 juta ton hingga akhir 2022, maka stok beras nasional turun menjadi 342.000 ton dari stok saat ini yakni 594.856 ton.

"Apa yang terjadi apabila Bulog tidak bisa meng-top up sampai 1,2 juta ton? Ini akan demikian Balak Ibu, bisa jadi, kalau kondisi seperti hari ini, stok kita akan turun terus sampai dengan 342.000 ton," jelasnya..

Bila stok beras nasional terus menurun, lanjut Arief, akan sangat membahayakan.

Lantaran, Bulog tidak bisa mengintervensi pada saat kondisi tertentu atau saat harga beras mengalami kenaikan tinggi di pasar.

Selain itu, akan menjadi masalah besar bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di masyarakat dan mengharuskan Bulog mendistribusikan beras ke masyarakat, namun stok justru tidak terpenuhi.

"Dan ini menurut kami sebagai Badan Pangan Nasional sangat bahaya karena Bulog tidak bisa mengintervensi pada saat kondisi-kondisi tertentu, pada saat harga tinggi, dan saat kalau ada KLB atau Kondisi Kejadian Luar Biasa seperti terjadi di Cianjur, kita tidak berharap, beberapa di tempat lain, Bulog itu harus punya stok," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini