Sum Cheong akhirnya menjadi perusahaan yang sukses di Singapura dan Malaysia. Namun daripada mengambil alih, Low ingin keluar ke tempat yang lebih besar. Dia pun melihat peluang di Indonesia.
Pada tahun 1973, Low yang berusia 25 tahun mendapatkan proyek pertamanya, pekerjaan dasar untuk pabrik es krim di Ancol, pesisir Jakarta.
Low adalah kontraktor pertama di Indonesia yang menggunakan palu diesel untuk mempercepat pemancangan.
Saat menjalankan tugasnya, Low mendapat terobosan besar. Beliau mengaku sangat beruntung.
Low juga bekerja sama dengan Jaya Steel anak perusahaan Pembangunan Jaya, perusahaan gabungan antara pemerintah provinsi Jakarta dan pengusaha lokal termasuk mendiang pengusaha properti Ciputra untuk mendirikan Jaya Sumpiles Indonesia.
Kepemilikan awal dibagi 50/50, kemudian Low mengambil kendali penuh.
Low memiliki pekerjaan tetapi menginginkan pendapatan yang stabil daripada pendapatan bisnis konstruksi sipil.
Pada akhir tahun 1987, Low memutuskan untuk memasuki bisnis kontraktor batu bara.
Pada saat itu, industri batu bara Indonesia masih dalam masa pertumbuhan.
Jaya Sumpiles bekerja sama dengan penambang dalam pemindahan, penambangan, dan pengangkutan lapisan penutup (lapisan tanah penutup adalah material yang harus dipindahkan sebelum memulai penambangan).
Selama tahun 1990-an, produksi dalam negeri meroket dari 4,4 juta ton menjadi 80,9 juta ton, dibantu oleh kebijakan yang mendukung penambang yang meningkatkan investasi.
Pada November 1997, setelah satu dekade pengalaman sektoral dan dengan kewarganegaraan Indonesia yang diwajibkan (didapatkan pada tahun 1992), Low membeli konsesi pertamanya, Gunung Bayan Pratama Coal, di Kalimantan Timur.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.