Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sri Mulyani Sebut Pemulihan Pasca Covid-19 Tak Semulus yang Diharapkan

Michelle Natalia , Jurnalis-Senin, 09 Januari 2023 |11:34 WIB
Sri Mulyani Sebut Pemulihan Pasca Covid-19 Tak Semulus yang Diharapkan
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa bukanlah tahun yang biasa di 2022. Terlebih, realita pemulihan pasca pandemi ternyata tidak semulus yang diharapkan.

"So 2022 was not an ordinary time. Itu adalah waktu di mana sesudah tahun ketiga dunia dihadapkan pada pandemi, which is not yet over, dunia tadinya berharap tahun ketiga menunjukkan smooth and strong recovery, mungkin tidak across the board tapi smooth and strong recovery," ujar Sri dalam CEO Banking Forum yang digelar IBI di Jakarta, Senin (9/1/2023).

Tetapi, dia mengungkap bahwa yang terjadi dalam pemulihan setelah 3 tahun manusia 'berhibernasi' di rumah masing-masing, tiba-tiba kantor menjadi tempat yang tidak familiar.

"You need to adjust again. Saya yakin, dan karena saya waktu itu ke AS ketemu Bloomberg, Bloomberg tidak mengerti karena anak-anak muda sekarang tidak suka ke kantor, lebih suka di rumah ibunya," tambah Sri.

Sehingga, dia menyebut memang ada generational gap. Karena usia Bloomberg, dia akui, memang sudah tua seperti Jimmy Diamond.

Padahal, sebelumnya confidence sudah meningkat karena adanya vaksinasi dan kegiatan ekonomi sudah mulai berjalan. Ternyata tidak semuanya kembali secara halus dan lancar.

"Karena manusia itu tidak bisa seperti listrik yang bisa di-on dan off. Sehingga ketika aktivitas terjadi tapi sisi suplai belum ada, restoran dibuka tapi rekrutmen pelayannya tidak terjadi dengan gampang, toko-toko dibuka pelayannya tidak cukup, barangnya masih stranded," ujar Sri.

Begitu pula dengan permasalahan kontainer di logistik. Dalam waktu 3 tahun itu, ada kontainer yang di Eropa, ada yang di AS, ada yang di Asia, ada di Tanjung Priok.

"Karena 3 tahun tidak ada traffic, demandnya dimana suplainya dimana, kontainernya dimana," ucap Sri.

Begitu ini semua kemudian dirangkai, sampai di pelabuhan ternyata tidak ada supir truk yang mau mengangkutnya. Karena mereka mau menyupiri kalau dibayar dengan tarif yang jauh lebih mahal.

Dia pun menirukan permintaan para supir truk pengangkut logistik itu.

"Jadi, kalau kamu mau saya keluar dari hibernasi saya, bayar saya lebih tinggi. Itu memicu inflasi dari sisi wage/upah harus dinaikkan untuk menarik orang dari kandangnya," ungkap Sri.

Fenomena ini pun yang memicu peningkatan jumlah barang, jumlah permintaan, jumlah jasa hingga kenaikan gaji. "Itu, fenomena yang to be very honest, di negara-negara maju, para policy makers taken aback. Mereka surprised dengan situasi itu," tandas Sri.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement