Selain itu, investor global masih dihadapkan oleh sikap hawkish dari The Fed jika perang Timur Tengah masih diperpanjang.
Nafan meyakini bahwa setidaknya, jika sentimen mereda seperti Rusia vs Ukraina, akan berbeda lagi kedepannya.
Dengan adanya kenaikan harga minyak dunia, tentu harga komoditas lainnya terkerek karena adanya permintaan global disertai supply chain disruption yang terjadi.
Meskipun konflik global masih ada, Nafan berharap sentimen yang datang ke Indonesia bisa mereda seperti konflik yang lain.
Adapun perekonomian Indonesia masih relatif stabil mengandalkan ekspor non migas yang menjadi unggulan yaitu sektor komoditas.
"Ini saja sudah mengalami tren kenaikan karena harga komoditas dunia mulai terapresiasi, ya tetap saja ini akan membuat data ekonomi makro kita akan menjadi lebih resilien ya misalnya dari surplus neraca perdagangan," ungkap Nafan.
BACA JUGA:
Namun yang jelas, kondisi Indonesia di kawasan ASEAN yang relatif stabil dari sisi politik hingga keamanan menjadi peran penting bagi perekonomian. Berbeda dengan Timur Tengah atau Eropa yang bebas gencatan senjata, ASEAN juga Indonesia saja menjadi kawasan yang bebas nuklir.
"Jadi otomatis perekonomian kita relatif stabil, strong disekitar 5 persen," tegas Nafan.
Untuk mata uang rupiah yang terdepresiasi, Nafan menilai masih sesuai nilai fundamental Indonesia. Hal itu karena BI masih terus meningkatkan intervensinya.
Indonesia masih punya cadangan devisa lebih tinggi dari yang ditetapkan oleh IMF dan World Bank.
Dengan demikian, untuk sejauh ini belum ada outflow yang terjadi karena adanya konflik. Kalau terjadi juga pasti akan ada mitigasi risiko.
"Kalau terjadi konflik, mata uang atau bicara safe haven kalau terjadi suatu konflik menyebabkan instabilitas," pungkas Nafan.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.