Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor, Bea Cukai Beri Kemudahan

Avirista Midaada , Jurnalis-Rabu, 24 Januari 2024 |11:22 WIB
Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor, Bea Cukai Beri Kemudahan
Bea Cukai Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor. (Foto :Okezone.com/Avirista)
A
A
A

MALANG - Bea Cukai mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menembus pasar ekspor. Apalagi Bea Cukai memberikan sejumlah fasilitas kemudahan bagi para pelaku usaha.

Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang Dwi Prasetyo Rini mengatakan, salah satu upaya mendorong produk UMKM di Malang menembus pasar ekspor yakni melalui program Klinik Ekspor Bea Cukai Malang.

"Kami memiliki program klinik ekspor yang mendukung dan memberikan fasilitasi UMKM untuk melakukan ekspor," kata Dwi, saat mendampingi perusahaan asal Jepang, melihat produk keramik di Kota Malang, pada Selasa petang (23/1/2024).

Dwi menjelaskan, pada 2023, Klink Ekspor Bea Cukai Malang memiliki kurang lebih sebanyak 400 mitra UMKM yang diberikan pendampingan, yang bertujuan untuk memperluas akses pasar terhadap produk-produk berkualitas unggulan ke mancanegara.

Dari sebanyak 400 pelaku UMKM yang diberikan pendampingan oleh Bea Cukai Malang tersebut, sebanyak 20 diantaranya telah melaksanakan ekspor perdana pada 2023. Diharapkan, pelaku UMKM yang akan melakukan ekspor pada 2024 akan meningkat.

Apalagi sejauh ini pemerintah telah memberikan kemudahan berupa peniadaan pajak ekspor, peniadaan biaya keluar, hingga pembebasan biaya pajak dan PPN, bagi bahan-bahan produksi impor untuk produk yang sudah ekspor.

"Tidak ada PPN, pajak keluar biaya juga nggak ada, hanya item-item tertentu. Kami nanti memfasilitasi ada fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor, nantinya kalau UMKM menggunakan barang-barang impor, barang-barang impor kan harusnya membayar biaya masuk, difasilitasi bea cukai, kalau memang tujuannya ekspor itu bisa ada pembebasan biaya masuk dan PPN," jelasnya.

Di mana dari beberapa pelaku usaha, Creative Kokedama di Kota Batu, yang memiliki produk kokedama atau media tanam bunga yang menggunakan bahan baku serabut kelapa tersebut, sudah mampu menandatangani kontrak eksklusif dengan perusahaan asal Jepang Bond Syoji. Co, Ltd.

"Creative Kokedama merupakan mitra kami pada Klinik Ekspor Bea Cukai Malang. Harapan kami ke depan, semakin banyak produk yang akan diminati oleh pembeli Jepang. Sehingga produk-produk Indonesia khususnya dari Kota Batu ini bisa melakukan ekspor," katanya.

Di sisi lain, pemilik Creative Kokedama Dwi Lili Indayani mengungkapkan, kerja sama dengan Bond Syoji. Co, Ltd., yang difasilitasi oleh Bea Cukai Malang tersebut bisa berjalan untuk jangka panjang. Creative Kokedama, lanjutnya, sudah melakukan ekspor produk tersebut sejak akhir 2023. Saat itu, produk kokedama yang diekspor ke Negeri Sakura tersebut kurang lebih sebanyak 10 ribu buah, dengan nilai kurang lebih Rp 400 juta.

Saat ini, lanjutnya, kerja sama itu tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak eksklusif senilai kurang lebih Rp 800 juta atau sebanyak 20 ribu produk kokedama. Kerja sama tersebut, diharapkan juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar yang juga membantu produksi kokedama tersebut.

"Ini diharapkan menjadi kerja sama untuk jangka waktu yang panjang. Dengan kontrak ini, diharapkan juga meningkatkan ekonomi dan memberdayakan masyarakat sekitar," terangnya.

Terpisah Kabid Usaha Mikro Diskopindag Kota Malang Faried Su'aidi menyatakan, di Kota Malang sudah ada beberapa pelaku UMKM yang sudah bisa mengekspor produknya. Produk itu didominasi oleh makanan minuman, serta kerajinan rotan.

"Kita makanan minum sudah (diekspor), rotan sentra rotan sudah (diekspor). Itu produknya malah banyak d luar, tapi kalau data riil ini, yang belum harus kami sinkronkan dengan teman-teman bea cukai," ujar Faried.

Khusus produk keramik yang tengah dilirik perusahaan asal Jepang, harapannya bisa terjalin transaksi. Terlebih pihak perusahaan Jepang Bong Syoji Co. Ltd, langsung datang ke sentra produksi dan membawa sampel keramik berupa mug dan pot bunga.

"Harapannya bisa mengembangkan keramik lagi produk unggulan kita bisa berkembang lagi, bisa jaya lagi. Dulu memang pernah, tahun 80 - 90, tahun 2.000 mengalami banyak penurunan, karena keluhannya dari teman-teman pelaku usaha itu bukan fasilitasi, tapi generasi penerusnya itu nggak ada," tandasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement