"Alhamdulillah di sini ada beberapa pejabat yang beli, biasanya seperti itu," terang Agung.
Lebih lanjut, Agung mengatakan bahwa sapi yang dijual bersama ke-14 orang rekannya telah habis terjual dan kini tinggal pengantaran ke orang yang membeli.
Pria yang sudah menekuni bisnis jual sapi sekitar 10 tahun lebih ini mengaku bahwa sapi yang dijual pada tahun ini berjenis limousin, simental.
Selain itu, ada pula sapi lokal yakni sapi madura dan sapi pegon yang merupakan persilangan antara sapi simental atau sampi limousin dengan sapi Jawa (lokal).
"Harga yang kami jual sekitaran Rp18 juta sampai Rp60 juta ke atas, yang paling mahal itu sapi koleksi. Kalau koleksi itu biasanya sapi piaraan khusus jenis limousin," jelas Agung.
Ia mengungkapkan untuk sapi jenis limousin yang dijual dengan harga Rp60 juta lebih per ekor merupakan sapi dengan bobot sekitar 900 kilogram.
"Kalau dari sisi penjualan sih biasanya untuk sapi limousin untuk kalangan-kalangan yang patungan di atas Rp5 juta per orang, kalau untuk sapi madura biasanya yang Rp3 jutaan per orang patungannya," ungkap Agung.
"Biasanya kalau untuk yang harga Rp150 juta itu kita pesanan aja, tetapi bisa kami menyediakan, itu pesanan," ujarnya.
Untuk memastikan sapi dalam keadaan yang sehat, Agung mengatakan bahwa semua sapi yang dijual telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan yang dilakukan oleh Suku Dinas Kesehatan dan Peternakan Jakarta Timur.
"Alhamdulillah setiap sapi yang tiba diperiksa oleh Dinas Kesehatan dan Peternakan dari Jakarta Timur," kata Agung.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur melepas 83 petugas pemeriksa kesehatan hewan kurban untuk memastikan hewan kurban di wilayahnya dalam kondisi sehat saat pemotongan pada Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriah.
Petugas pemeriksa kesehatan hewan kurban itu dilepas oleh Wali Kota Jaktim M Anwar yang ditandai dengan pemakaian jas putih kedokteran di Kantor Wali Kota Jaktim, Cakung.
(Taufik Fajar)