JAKARTA — KAI Commuter Indonesia menjadi sorotan publik pekan ini, mulai dari insiden tumbler penumpang yang hilang di KRL hingga pergantian Direktur Utama. Meski pergantian direksi tidak terkait dengan hilangnya tumbler, kedua peristiwa ini terjadi pada hari yang sama.
Oleh karena itu, Okezone merangkum fakta-fakta menarik seputar pergantian direksi KCI di tengah kehebohan tumbler yang hilang di KRL, Sabtu (29/11/2025):
PT KAI Commuter Indonesia (KCI) resmi mengganti posisi Direktur Utama Asdo Artriviyanto dengan Mochamad Purnomosidi.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan penggantian tersebut merupakan rotasi rutin untuk penyegaran organisasi.
"Betul, bahwa hari Kamis (27/11) terdapat penggantian Direktur Utama dan beberapa anggota Direksi lainnya di PT KCI," ujarnya.
Pergantian posisi ini ditegaskan oleh VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, tak berkaitan dengan kasus tumbler penumpang yang hilang.
"Tidak ada kaitan dengan hilangnya tumbler," kata Karina.
Selain Direktur Utama, posisi Direktur Operasi dan Pemasaran kini dijabat oleh Heri Siswanto, serta Direktur Keuangan dan Administrasi diemban oleh Nugroho Dwi Sasongko.
"Penggantian Direktur Utama, Direktur Operasi dan Pemasaran, serta Direktur Keuangan dan Administrasi," sambungnya.
Kasus tumbler hilang viral di media sosial terkait penumpang KRL bernama Anita, yang kehilangan cooler bag berisi botol minum saat menumpang kereta Commuter Line jurusan Stasiun Tanah Abang ke Rangkasbitung.
Anita pun menghubungi petugas KAI untuk mengamankan barangnya yang tertinggal. Cooler bagnya berhasil diamankan, namun ia terkejut karena satu botol tumbler miliknya ternyata tak ada di dalam tas.
Anita bersikeras agar botol minumnya bisa dikembalikan. Petugas KAI berusaha mencari jalan tengah dengan mendampingi Anita melihat rekaman CCTV. Pihak petugas menjelaskan bahwa membuka rekaman CCTV membutuhkan prosedur dan izin tertentu.
Berusaha menemukan titik terang, petugas KAI ini mengaku siap mengganti botol minum atau tumbler milik Anita. Diketahui, petugas tersebut rela membeli botol minum seharga Rp300 ribu.
Alih-alih permasalahan selesai, nasib pekerjaan petugas KAI justru sempat terancam setelah Anita memviralkan cerita hilangnya tumbler miliknya di media sosial.
(Feby Novalius)