JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri kabinet Merah Putih membahas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (11/2/2026). Ratas ini digelar usai Prabowo menggelar pertemuan dengan lima pengusaha nasional di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (10/2/2026) malam.
Lima pengusaha nasional yang hadir yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy) dan Sugianto Kusuma (Agung Sedayu Group).
Dalam rapat hari ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai perkembangan indikator makroekonomi terkini.
Pada indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia, Airlangga melaporkan bahwa pada kuartal keempat pertumbuhan mencapai 5,39 persen. Angka ini, menurut Menko Airlangga tertinggi di antara negara-negara G20.
“Kemudian pertumbuhan 5,11 persen secara year-on-year ini juga sangat baik,” ujar Menko Airlangga.
Dari sisi sektor riil, Menko Perekonomian melaporkan bahwa aktivitas manufaktur masih berada pada zona ekspansi dengan indeks sebesar 52,6. Selain itu, tingkat keyakinan konsumen pada Januari juga menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Indeks keyakinan konsumen di bulan Januari juga masih tinggi, yaitu dibandingkan dengan Desember terjadi kenaikan 127. Dan kalau kita mengacu kepada Mandiri Spending Index itu angkanya di 372,5,” lanjutnya.
Sementara itu, kinerja konsumsi domestik turut menunjukkan tren positif. Menko Airlangga mengatakan bahwa penjualan riil tercatat tumbuh 7,9 persen secara tahunan dan angka ini meningkat signifikan dibandingkan Desember tahun lalu yang tumbuh 3,5 persen.
“Dari segi neraca perdagangan juga kita sampai Desember terus surplus selama 68 bulan berturut-turut yaitu 2,51. Realisasi daripada PMA-PMDN Rp1.931,2 (triliun). Kemudian dari segi cadangan devisa tetap tinggi 154,6 (miliar dolar AS) dan pertumbuhan kredit tinggi 9,69 (persen),” katanya.
Lebih lanjut, Airlangga melaporkan bahwa peringkat kredit Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat internasional masih berada pada level investment grade. Meski demikian, pemerintah mencermati outlook negatif dari Moody’s sebagai hal yang perlu diantisipasi dengan langkah-langkah kebijakan yang tepat.
“Nah ini tentu perlu diperhatikan terkait dengan penjelasan yang diperlukan utamanya tentang penerimaan negara yang juga berpotensi meningkat dan juga terkait dengan rencana dari pada Danantara,” pungkasnya.
Rapat terbatas ini menegaskan komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dan arah pertumbuhan yang semakin terstruktur.
(Dani Jumadil Akhir)