JAKARTA – Fenomena mudik Idulfitri 2026 diproyeksikan menjadi penggerak utama perekonomian nasional melalui efek berganda (multiplier effect) yang luas, dengan potensi mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga hingga 15–20 persen dibandingkan periode normal. Aktivitas mudik ini juga mendorong redistribusi ekonomi dari pusat ke daerah serta meningkatkan pendapatan pelaku usaha, terutama UMKM.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menekankan setiap pengeluaran pemudik memberikan dampak berlapis bagi berbagai sektor riil, terutama UMKM di daerah yang pendapatannya berpotensi meningkat hingga 50–70 persen.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi. Peningkatan aktivitas tersebut juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa. Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelas Haryo, dikutip Minggu (22/3/2026).
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5–5,6 persen (yoy), di mana konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial sebesar 53–54 persen terhadap PDB.
Untuk mencapai target tersebut, sejumlah stimulus telah dikucurkan menjelang Idulfitri 2026, yakni stimulus fiskal dengan alokasi lebih dari Rp12,8 triliun, bantuan sosial dengan penyaluran Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon transportasi dengan subsidi senilai Rp911,16 miliar.
Inovasi kebijakan seperti Work From Anywhere (WFA) bagi ASN juga dinilai efektif memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman, yang secara otomatis meningkatkan perputaran uang (velocity of money) di daerah.