JAKARTA - Indonesia saat ini tidak berada dalam kondisi gawat darurat energi, meskipun ketegangan di Timur Tengah terus membayangi pasar global. Hal ini dipastikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Selain itu, Purbaya juga membantah isu ekonomi Indonesia akan mengalami krisis imbas perang AS-Iran. Dirinya menyentil ekonom yang menyebut ekonomi akan hancur dalam dua bulan.
Berikut ini Okezone rangkum Indonesia tidak darurat energi hingga Purbaya jawab isu ekonomi akan hancur, Jakarta, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Purbaya, indikator utama sebuah keadaan darurat energi adalah terhentinya ketersediaan stok, sementara saat ini pasokan energi nasional seperti BBM dan LPG masih terjaga dengan baik.
Hal ini sekaligus merespons langkah negara tetangga, Filipina, yang telah mengumumkan status darurat energi dan menerapkan kebijakan work from home (WFH) dua hari sepekan bagi warganya.
"Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti. Itu yang saya takut. Bukan harganya, suplainya enggak ada itu. Ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak," tegas Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (25/3/2026).
Meski pasokan BBM dan LPG saat ini dinilai aman, Purbaya mengingatkan pentingnya menyiapkan solusi jangka panjang jika eskalasi konflik berlanjut.
Purbaya menekankan perlunya desain kebijakan yang lebih tangguh agar fiskal negara tidak terus menerus berada dalam posisi tertekan setiap kali terjadi gejolak global.
"Tapi kita harus siap-siap terus ke depan. Kalau misalnya keadaan seperti ini sering terjadi, apakah kita akan deg-degan terus? Apakah nanti Anda akan maki-maki saya terus desain anggaran jelek segala macam?" ujarnya.