Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Pekan Ini Diprediksi Tertekan ke 6.538-6.640 Imbas Rebalancing MSCI, Cek Rekomendasi Saham

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 18 Mei 2026 |07:01 WIB
IHSG Pekan Ini Diprediksi Tertekan ke 6.538-6.640 Imbas Rebalancing MSCI, Cek Rekomendasi Saham
IHSG Pekan Ini Diprediksi Tertekan ke 6.538-6.640 Imbas Rebalancing MSCI, Cek Rekomendasi Saham (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini 18–22 Mei 2026 diprediksi masih tertekan. Pasar diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas yang tinggi. Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada proses penyesuaian portofolio global seiring dengan agenda pengocokan ulang (rebalancing) indeks MSCI.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan, dinamika pasar saat ini didominasi oleh faktor teknikal akibat pergeseran dana kelolaan pasif (passive funds), bukan karena adanya pemburukan pada kondisi ekonomi nasional.

"Tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” kata Imam dalam analisisnya, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Meskipun terdapat potensi arus modal keluar (outflow) dari saham-saham yang dikeluarkan dari indeks, pasar dinilai akan mengalami rotasi menarik. Dana investasi berpotensi masuk (inflow) ke saham-saham yang mengalami peningkatan bobot seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR.

Selain itu, terdapat sentimen positif jangka menengah dari potensi peningkatan (upgrade) status pasar Korea Selatan oleh MSCI menjadi Developed Market, yang berpeluang mengalihkan alokasi dana global ke pasar berkembang seperti Indonesia.

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih dalam fase tren menurun (bearish) dengan area batas bawah (support) berikutnya di rentang 6.640 hingga 6.538.

Kendati mulai terlihat tanda-tanda jenuh jual (bearish exhaustion), konfirmasi pembalikan arah (reversal) belum terbentuk secara kuat.

“Namun hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” imbuhnya.

Pada pekan sebelumnya, bursa saham domestik melewati fase yang sangat menantang dan ditutup melemah tajam ke level 6.723. Tekanan jual masif ini dipicu oleh keputusan MSCI yang merombak daftar saham unggulan Indonesia dalam Global Standard Index.

“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” kata Imam.

 

Langkah para pengelola dana asing yang melakukan penyesuaian portofolio lebih awal sebelum tanggal efektif 29 Mei 2026 memicu aksi passive outflow yang agresif. 

Kondisi dalam negeri semakin terbebani oleh sentimen makro global yang kurang kondusif, terutama inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi sehingga menguatkan skenario suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer).

“Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.520 per dolar AS,” ungkap Imam.

Tekanan ini kian berlapis seiring lonjakan harga minyak mentah dunia di atas USD105 per barel akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan krisis keamanan di Selat Hormuz.

Meskipun indeks terkoreksi secara luas, IPOT mencatat adanya pergerakan sektoral yang selektif. Sektor energi mengalami pelemahan akibat faktor teknikal dari deletion saham DSSA dan BREN, bukan karena penurunan harga komoditas.

Sebaliknya, sektor transportasi bergerak melawan arah (outperformer) berkat lonjakan saham ELPI pasca-aksi korporasi divestasi anak usahanya ke grup Prajogo Pangestu.

“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” jelasnya.

Di pasar komoditas, harga minyak bumi dan batu bara tetap solid karena kekhawatiran pasokan dunia dan pengalihan konsumsi energi Asia dari LNG ke batu bara. Kabar domestik mengenai penundaan kenaikan royalti minerba oleh pemerintah turut menjadi angin segar yang menjaga margin profitabilitas emiten tambang tetap stabil.

Pada aspek aliran dana, catatan foreign sell senilai Rp3,21 triliun pekan lalu mayoritas hanya terkonsentrasi pada saham-saham perbankan besar dan emiten yang terdampak pengurangan indeks MSCI.

Sebaliknya, saham-saham berkarakter defensif dengan arus kas kuat seperti ADRO, TLKM, dan INKP justru tetap membukukan inflow asing, mengindikasikan berjalannya strategi flight to quality di kalangan investor global.

Berikut rekomendasi saham untuk pekan ini:

1. Buy BUMI (Entry: 214, Target Price (TP): 242, Stop Loss (SL): <200)
2. Buy MINA (Entry: 384, Target Price (TP): 384, Stop Loss (SL): <342)
3. Buy RMKE (Entry: 3300, Target Price (TP): 3650, Stop Loss (SL): <3110)
4. Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC) (Entry: 806, Target Price (TP): 854, Stop Loss (SL): <783)
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement