Ia juga membeberkan contoh perbedaan nilai ekspor dan impor dalam dokumen yang dibawanya.
"Ada contohnya (baca dokumen) ga mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi ada dari Indonesia dikirim harganya USD 2,6 juta impornya di sana USD 4,2 juta jadi 57% bedanya," kata Purbaya.
"Ada yg lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya USD 1,44 juta di sana USD 4 jutaan berubah harga 200%, kita mau detensi kapal per kapal jadi itu yg saya laporin kalaj ditanya kalaj ga ya gausah," tambahnya.
Purbaya menegaskan temuan tersebut baru terkait sektor CPO dan akan dilanjutkan ke komoditas lainnya. "Ini 10 besar. Ini baru CPO nanti ada batu bara juga."
Saat ditanya terkait potensi kerugian negara, Purbaya menyebut nilainya bisa sangat besar jika ditarik ke belakang. "Kalau saya tarik berapa tahun ke belakang panen saya," pungkasnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.