JAKARTA - Pemerintah Indonesia menindaklanjuti pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Jerman yang berlangsung di Istana Negara pada Senin (15/6/2026).
Salah satu poin krusial yang kini tengah digodok adalah pemanfaatan peluang kerja sama di sektor sumber daya manusia dan ketenagakerjaan guna menyongsong implementasi perjanjian perdagangan EU-CEPA.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, delegasi bisnis Jerman memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan tenaga kerja asal Indonesia.
Langkah ini dipandang sebagai solusi strategis bagi Jerman yang saat ini tengah menghadapi tantangan demografi berupa penurunan jumlah generasi muda di negara mereka.
Pemerintah secara resmi telah menawarkan skema penempatan tenaga kerja nasional dalam forum komisi bersama yang dijadwalkan berlangsung pada paruh kedua tahun ini. Program tersebut nantinya tidak hanya fokus pada perekrutan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas melalui berbagai pusat pelatihan terpadu.
"Jadi mereka ingin memanfaatkan itu dan tadi saya tawarkan rencana dua pihak untuk penempatan tenaga kerja ataupun pelatihan di bulan September mendatang," ujar Airlangga selepas pertemuan dengan delegasi Jerman di Kantor Kementerian Perekonomian.
Rencana besar ini diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengiriman tenaga kerja terampil ke pusat industri terbesar di Uni Eropa. Untuk menjamin efektivitas program di lapangan, pemerintah secara khusus memberikan mandat kepada sektor swasta untuk mengawal teknis pelaksanaannya.
Pihak kementerian menilai keterlibatan asosiasi pengusaha sangat penting untuk menjembatani kebutuhan industri di Jerman dengan ketersediaan tenaga kerja di Tanah Air. Oleh karena itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia diminta untuk mengambil peran sentral sebagai koordinator utama dari sisi dunia usaha.
"Tadi saya minta langsung kepada Ketua Umum Kadin untuk mengorganisir hal tersebut," tegas Airlangga.
Dalam momen bersamaan pertemuan dengan delegasi Jerman, Kadin Indonesia menyambut positif inisiatif pemerintah tersebut sebagai bagian dari optimalisasi perjanjian EU-CEPA yang sedang dalam proses ratifikasi. Jerman, sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Uni Eropa, dinilai memiliki antusiasme yang sangat besar untuk memperluas cakupan investasi dan kemitraan ekonomi dengan Indonesia.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menekankan bahwa program ini merupakan kesempatan emas bagi pekerja migran Indonesia untuk mendapatkan pengalaman di level global.
Melalui skema pertukaran pekerja, tenaga kerja lokal diharapkan mampu menyerap standar teknologi dan manajemen industri maju sebagai persiapan menghadapi era industrialisasi di dalam negeri.
"Supaya bisa terjadi bukan hanya relasi yang baik antara people to people, tapi juga saling belajar supaya Indonesia juga siap di era industrialisasi," ungkap Anindya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah Indonesia ingin memperluas peluang kerja bagi warga negara Indonesia (WNI) di Jerman, termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi.
"Di bidang tenaga kerja kesehatan, kami sangat apresiasi penandatanganan Letter of Intent mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan. Indonesia juga ingin memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di Jerman termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi," kata Prabowo dalam konferensi pers bersama Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia juga terus memperluas cakupan kerja sama ekonomi dengan Jerman, terutama dalam pengembangan sektor mineral kritis dan penataan industri baja nasional.
Langkah ini turut melibatkan peran Kadin Indonesia guna memastikan investasi yang masuk selaras dengan agenda hilirisasi serta penguatan teknologi dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa delegasi bisnis Jerman menunjukkan ketertarikan yang besar untuk mendalami potensi komoditas strategis di tanah air.
Indonesia juga mencermati kondisi pasar baja global yang tengah mengalami tekanan kapasitas di kawasan Eropa sehingga arah kerja sama akan dialihkan ke sektor yang lebih prospektif.
"Mereka tertarik terkait dengan rare earth juga termasuk nikel, namun saya sampaikan bahwa saat ini Eropa sedang memotong produksi baja karena ada excess capacity dari 80 juta ke 40 juta ton sehingga kita fokus ke sektor lain yang masih terbuka," ujar Airlangga.
Meskipun pasar global dinamis, Airlangga menekankan bahwa para pemodal asal Jerman tetap memandang Indonesia sebagai destinasi investasi yang stabil dan menjanjikan untuk jangka panjang. Indonesia dinilai telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang memiliki peran signifikan dalam konstelasi ekonomi dunia berkat fundamental yang kokoh.
"Investor Jerman bersifat long-term dan tidak memonitor saham harian, apalagi mereka melihat Indonesia sebagai middle power atau negara kekuatan menengah yang semakin lama semakin penting," kata politisi partai Golkar itu.
Tren hubungan dagang kedua negara juga mulai bergeser dari sekadar impor barang modal menjadi kemitraan berbasis transfer teknologi dan penguatan rantai pasok secara menyeluruh. Pemerintah kini tengah membidik penguatan kapasitas produksi komponen berteknologi tinggi melalui pendalaman ekosistem pusat industri yang sudah ada.
"Indonesia secara spesifik meminta penguatan ekosistem semikonduktor, apalagi perusahaan Jerman seperti Infineon sudah beroperasi di Batam sehingga kita ingin kerja sama ini diperdalam lagi," jelas Airlangga.
Dalam momen bersamaan, Kadin Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menjembatani animo pengusaha Jerman dalam memanfaatkan momentum perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa-Indonesia (EU-CEPA). Antusiasme Jerman sebagai motor ekonomi Uni Eropa dipandang sebagai peluang besar untuk mempercepat proses industrialisasi nasional melalui kucuran modal asing yang lebih masif pada sektor-sektor masa depan.
"Terlihat animo besar untuk berdagang memanfaatkan EU-CEPA, termasuk keinginan mereka menambah investasi pada sektor mineral kritis, energi transisi, hingga advanced manufacturing," kata Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.