"Kalau dari sisi operator, mungkin kita concern masalah pricing (harga), karena tentu blended aviation fuel ini harus affordable dari sisi operasional cost maskapai, khususnya penerbangan berjadwal. Wah pasti lebih mahal (dibanding avtur), tapi tentu kita lihat kesesuaiannya dengan affordability-nya," tambah Denon.
Meski demikian, Denon mengakui bahwa nantinya penggunaan SAF untuk rute penerbangan internasional bakal memangkas biaya pajak karbon yang diterapkan di sejumlah wilayah udara luar negeri. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan nilai kompetitif maskapai di dalam negeri.
Sementara dari sisi rantai pasok, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan SAF adalah bahan bakar pesawat yang diolah dari bahan baku nabati, dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).
Saat ini perseroan tengah memperluas kilang biorefinery Cilacap untuk memproduksi SAF dan hydrotreated vegetable oil (HVO) dari minyak goreng bekas dan bahan baku berbasis limbah berkelanjutan lainnya. Fasilitas ini beroperasi dengan kapasitas hingga 3.000 - 6.000 barel per hari dan mendukung target transisi energi menuju Net Zero Emission.
"Meningkatkan skala SAF memerlukan pengembangan bahan baku, teknologi canggih, sertifikasi, integrasi rantai pasok, partisipasi maskapai penerbangan, regulasi yang mendukung, investasi, dan kemitraan yang terpercaya. Itulah mengapa kemitraan kami dengan Boeing sangatlah penting," kata Simon dalam sambutannya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.