Dia menjelaskan, area depan Pakuwon Mall memiliki bukaan yang sangat lebar, sekitar 1,5 kilometer.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan pejalan kaki karena banyak pengunjung menyeberang di sembarang tempat.
“Kalau semua orang menyeberang dan masuk sembarangan, itu justru membahayakan keselamatan mereka sendiri," ujar Sutandi.
Dia membantah anggapan bahwa pemasangan pagar dilakukan sebagai antisipasi terhadap situasi tertentu atau adanya informasi mengenai potensi gangguan keamanan.
"Pakuwon bukan peramal. Kami tidak tahu akan terjadi apa. Jadi, tidak ada kaitannya dengan isu-isu yang berkembang," tegas dia.
Sutandi menilai masyarakat tidak perlu mengaitkan kebijakan tersebut dengan berbagai spekulasi yang beredar. "Jangan overthinking. Kami berharap semuanya baik-baik saja. Kondisi tetap aman," katanya.
Lebih lanjut, Sutandi menuturkan penggunaan pagar bukan hal baru di lingkungan pusat perbelanjaan yang dikelola Pakuwon Group. Sejumlah mal telah lebih dulu menerapkan konsep serupa sebagai bagian dari standar keselamatan dan penataan kawasan.
Dia mencontohkan Royal Plaza Surabaya yang telah dipagari sejak 2006. Sementara Blok M Plaza di Jakarta menjadi salah satu acuan desain pagar yang kini diterapkan di Pakuwon Mall.
Selain itu, Tunjungan Plaza 4 dan Tunjungan Plaza 5 juga telah menggunakan pagar berbahan kaca, sedangkan Pakuwon City Mall (PCM) menggunakan pagar berbahan BRC yang membentang dari sisi depan hingga belakang kawasan.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.