Menurutnya, kinerja kuat tersebut mencerminkan kombinasi investasi publik yang terkait dengan prioritas nasional dan program infrastruktur, serta investasi swasta di sektor manufaktur, hilirisasi industri, permesinan, infrastruktur digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan pusat data. Hal ini sejalan dengan peningkatan berkelanjutan impor barang modal serta realisasi investasi kuartal II-2026 yang mencapai sekitar Rp512 triliun. Angka tersebut tetap positif meskipun kondisi investasi domestik cenderung melambat.
Sektor eksternal juga memberikan tekanan yang lebih ringan sehingga menjadi bantalan tambahan. Ekspor neto masih memberikan kontribusi negatif sebesar 0,78 poin persentase, namun dampak negatif tersebut lebih kecil dibandingkan 1,01 poin persentase pada kuartal I-2026. Dengan demikian, ekspor neto bukan menjadi penyebab perlambatan pertumbuhan secara berurutan (sequential).
Sebaliknya, kontribusi negatif yang lebih kecil dari sektor tersebut justru sedikit mengimbangi pelemahan konsumsi dan berkurangnya dukungan fiskal.
"Dampak negatif yang terus berlanjut ini tetap sejalan dengan analisis kami mengenai keseimbangan eksternal, di mana impor yang kuat, khususnya energi dan barang modal, telah mengurangi kontribusi dari sektor perdagangan," ujarnya.
Dari sisi produksi, perlambatan terkonsentrasi pada sektor manufaktur dan beberapa sektor yang lebih kecil, sementara sektor konstruksi dan perdagangan memberikan dukungan. Manufaktur tetap menjadi sumber pertumbuhan terbesar, namun kontribusinya menurun menjadi 0,90 poin persentase (ppt) dari 1,03 ppt.
Sementara itu, sektor konstruksi menguat menjadi 0,62 ppt dari 0,53 ppt dan sektor perdagangan naik tipis menjadi 0,83 ppt dari 0,82 ppt, sejalan dengan ketahanan investasi dan aktivitas domestik. Sektor pertambangan menjadi titik terlemah dengan kontraksi sebesar 1,64% (yoy), yang sebagian mencerminkan adanya pembatasan produksi. Sementara itu, sektor listrik dan gas, penyediaan akomodasi dan makan-minum, serta informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan sektoral tertinggi.