Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Rabu, 12 Agustus 2026 |14:43 WIB
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan (Foto: Amman)
A
A
A

Teknologi Tidak Berhenti di Pabrik

Pertambangan tidak hanya memiliki persoalan di dalam pabrik. Ada persoalan yang jauh lebih luas di luar area operasi: bagaimana menjaga lingkungan tempat operasi berlangsung.

Bagi Jorina Waworuntu, Head of Environment Department AMMAN, lingkungan bukan sekadar istilah dalam laporan perusahaan.

Lingkungan adalah air yang digunakan manusia. Udara yang dihirup. Tanah tempat tumbuhan tumbuh. Dan ruang hidup masyarakat di sekitar operasi.

“Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Yang membuat suatu sistem berfungsi adalah orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi,” katanya.

Karena itu, pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada kepatuhan. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi fondasi, tetapi kemudian diperkuat melalui perencanaan, pembangunan infrastruktur, pemantauan, pelatihan, serta pengembangan kompetensi manusia. Salah satu wujudnya adalah reklamasi. 

Hingga akhir 2025, AMMAN telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, termasuk capaian reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah Batu Hijau pada 2025 seluas 92,67 hektare. 

AMMAN juga terus memperkuat transisi menuju energi yang lebih bersih. Sejak 2022, PLTS berkapasitas 26,8 MWp telah beroperasi dan sepanjang 2025 membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton CO₂e. 

Selain energi, pengelolaan air menjadi perhatian penting. Untuk memperkuat ketahanan terhadap musim kemarau, AMMAN membangun fasilitas desalinasi di Benete dan Sejorong serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali air dalam operasional. 

Sementara itu, pemanfaatan citra satelit membantu perusahaan memantau perubahan kondisi lahan secara lebih cepat sehingga pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih akurat dan berbasis data.

Teknologi kembali menempati posisinya sebagai alat. Bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menggunakan sumber daya secara lebih bijak dan mengurangi jejak operasi.

Nilai yang Mengalir Melewati Pagar Tambang

Lalu, sejauh mana semua aktivitas itu memberikan dampak kepada masyarakat? 

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencoba mengukurnya.

Dalam kajian Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), LPEM FEB UI menganalisis kontribusi aktivitas pertambangan, pembangunan smelter, serta program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN sepanjang 2018-2024.

Dengan pendekatan Inter-Regional Input-Output (IRIO), kajian tersebut melihat dampak langsung sekaligus efek berganda yang muncul melalui pemasok, kontraktor, pekerja, sektor jasa, logistik, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Hasilnya menunjukkan kontribusi AMMAN terhadap pembentukan PDB nasional mencapai Rp173,4 triliun selama periode kajian, atau rata-rata Rp24,8 triliun per tahun.

Pendapatan rumah tangga yang tercipta mencapai Rp67,6 triliun. Aktivitas tersebut juga berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024 hingga 0,098 poin persentase, setara sekitar 80.000 hingga 206.000 orang.

Tingkat pengangguran nasional diperkirakan turun 0,012 hingga 0,069 poin persentase, atau sekitar 29.000 hingga 90.000 orang.

Dalam ketenagakerjaan, aktivitas AMMAN rata-rata menghasilkan sekitar 55.000 lapangan kerja per tahun secara nasional. Pada 2024, jumlah kesempatan kerja yang tercipta mencapai lebih dari 105.000.

“Kontribusi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka-angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas. Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas,” ujar Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya.

Dampak itu tidak selalu terlihat dari kejauhan. Ketika ribuan pekerja membutuhkan makanan, ada petani dan peternak yang memperoleh pasar. Ketika operasi membutuhkan logistik, ada usaha dan pekerja yang ikut bergerak. Ketika industri tumbuh, rantai pasok ikut berkembang.

Dengan kata lain, aktivitas pertambangan tidak berhenti di pagar perusahaan. Nilainya mengalir ke dalam ekonomi masyarakat.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa nilai sebuah tambang tidak hanya berada di dalam lubang tambang. Nilainya juga berada di sepanjang rantai ekonomi yang tercipta sesudahnya.

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement