JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi nasional berada dalam kondisi solid di tengah ketidakpastian global. Ketahanan tersebut dinilai menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan suku bunga tinggi, gejolak geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan pangan dunia.
Pemerintah optimistis arah kebijakan ekonomi berada di jalur yang tepat untuk merespons dinamika pasar global yang fluktuatif. Keyakinan ini diperkuat oleh proyeksi sejumlah lembaga internasional yang melihat adanya perbaikan kinerja perekonomian pada periode mendatang.
"Lembaga dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di tahun ini di sekitar 2,8 persen dan pada 2027 diproyeksikan lebih tinggi, yaitu 3,1 persen. Artinya, ada prospek positif untuk pertumbuhan perekonomian di dalam negeri," kata Airlangga dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Optimisme tersebut, kata Airlangga, selaras dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama yang mencapai 5,45 persen, atau menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Sektor investasi juga menunjukkan kinerja positif dengan realisasi mencapai Rp1.010,6 triliun.
Kondisi tersebut didukung penilaian positif dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional. S&P memberikan peringkat BBB, Fitch memberikan peringkat BBB, dan Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook stabil. Sementara itu, Lianhe memberikan peringkat AAA untuk penerbitan panda bond.
Di tingkat domestik, stabilitas sosial juga terjaga dengan rasio Gini yang turun menjadi 0,368 pada Maret, diikuti tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen pada Mei. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kokoh di level 116,8, sementara PMI manufaktur bertahan di zona ekspansif sebesar 50,2.
Aktivitas sektor riil turut menggeliat, ditandai dengan kenaikan penjualan otomotif sebesar 33,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Lonjakan juga terjadi pada kategori kendaraan listrik dan hibrida yang mencapai lebih dari 40 persen.
Indikator konsumsi listrik nasional tercatat naik 10,8 persen, sementara penjualan semen tumbuh 13,5 persen YoY. Di sektor keuangan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,21 persen, kredit tumbuh 12,67 persen YoY, dan kredit investasi melesat hingga sekitar 25 persen. Sementara itu, pemulihan sektor UMKM berada di kisaran 1 persen per bulan.
Keberhasilan menjaga konsumsi domestik tersebut didukung stabilitas sektor keuangan serta bantalan eksternal yang masih memadai. Kinerja ekspor yang surplus dan penguatan nilai tukar rupiah juga menjadi penopang daya tahan ekonomi nasional.
"Cadangan devisa kita aman di angka 145,3 miliar dolar AS yang setara 5,5 bulan impor, sementara neraca dagang secara kumulatif Januari-Juni juga masih positif sebesar 3,58 miliar dolar AS," jelas Airlangga.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menggelontorkan stimulus sebesar Rp70 triliun pada kuartal pertama dan Rp26,34 triliun pada kuartal kedua untuk berbagai insentif pajak, transportasi, pembebasan bea masuk LPG, program vokasi dan magang, serta bantuan pangan.
Di samping itu, program perlindungan sosial (perlinsos) dialokasikan sebesar Rp549,9 triliun. Anggaran tersebut mencakup Program Keluarga Harapan (PKH), Program Sembako, iuran Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), penanganan bencana, subsidi BBM, KIP Kuliah, dan subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Di tengah pemulihan tersebut, pemerintah terus mempercepat transformasi struktural melalui efisiensi BUMN dan penguatan sektor bernilai tambah tinggi. Penguatan ketahanan energi serta pembenahan tata kelola komoditas strategis juga diakselerasi untuk menciptakan kemandirian ekonomi.
"Kita mendorong swasembada energi lewat program B50, optimalisasi pengelolaan tiga komoditas strategis melalui PT DSI yang diapresiasi S&P untuk menekan under-invoicing dan transfer pricing, serta efisiensi dengan menutup 290 BUMN tidak aktif," paparnya.
Upaya transformasi tersebut mengandalkan mesin pertumbuhan baru di sektor bernilai tinggi, seperti digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI). Revitalisasi juga diarahkan pada sektor strategis seperti pertanian dan energi, termasuk pendirian bursa komoditas mineral Indonesia sebagai acuan harga referensi dunia.
Langkah tersebut diimbangi dengan peningkatan daya saing investasi dan ekspor melalui deregulasi, debottlenecking, kemitraan internasional melalui 25 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan, termasuk lima kesepakatan baru dalam setahun terakhir, serta pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Bauran kebijakan makro yang mencakup kebijakan fiskal, moneter, stabilitas, serta investasi juga melibatkan Danantara sebagai bagian dari penguatan ekosistem. Kebijakan tersebut ditopang oleh empat prasyarat utama, yakni iklim investasi yang menarik, kemudahan regulasi, stabilitas makro, serta APBN yang prudent dan berkelanjutan.
Seluruh langkah reformasi struktural tersebut diarahkan untuk menopang sasaran pembangunan jangka menengah yang kredibel. Anggaran belanja negara pun dirancang secara cermat agar mampu membiayai program prioritas tanpa mengorbankan kesinambungan fiskal.
"Berdasarkan arahan Bapak Presiden, target pertumbuhan ekonomi kita patok sebesar 6 persen dengan laju inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen dan angka kemiskinan ditekan ke level 6 hingga 6,5 persen," kata Airlangga.
Adapun sasaran pembangunan lainnya menargetkan tingkat pengangguran terbuka berada pada rentang 4,3 hingga 4,87 persen.
Dalam RAPBN dan Nota Keuangan 2027 tersebut, pendapatan negara dianggarkan sebesar Rp3.246 triliun dengan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran dijaga pada level 2,4 persen terhadap PDB atau sebesar Rp671,2 triliun.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.