JAKARTA - Teknologi digital membuka peluang masyarakat desa untuk memperluas akses pasar sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru. Namun, keterbatasan akses dan pengetahuan digital masih menjadi tantangan bagi sebagian generasi muda dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa.
Kondisi ini mendorong salah satu kreator afiliasi, entrepreneur, Hendri Alejandro untuk membantu warga memanfaatkan ekosistem digital dalam mengembangkan usaha. Inisiatif tersebut berawal dari pengamatannya terhadap sejumlah warga Desa Ibun yang menjalankan industri rumahan, khususnya usaha perlengkapan bayi.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi pelaku usaha bukan semata-mata kemampuan produksi, melainkan keterbatasan akses untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Berbekal pengalaman di bidang digital, Hendri kemudian membantu warga memasarkan produk melalui berbagai kanal digital. Salah satunya melalui fitur perdagangan elektronik dan program afiliasi yang tersedia di sejumlah platform digital.
"Saya melihat sebenarnya banyak produk dari warga desa yang kualitasnya bagus dan produksinya jalan. Tantangannya adalah bagaimana mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas karena belum semua pelaku UMKM memiliki pengetahuan dan akses digital yang memadai," ujar Hendri, Selasa (18/8/2026).
Menurut Hendri, pemberdayaan ekonomi desa tidak cukup hanya dengan membantu pelaku UMKM memasarkan produknya. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital agar dapat terlibat langsung dalam ekosistem ekonomi tersebut.
Karena itu, ia mulai melatih sejumlah warga di Desa Ibun untuk menjadi host siaran langsung (live streaming). Mereka membantu memperkenalkan dan memasarkan produk UMKM lokal melalui kanal digital, sekaligus mendapatkan pengalaman dan peluang penghasilan dari aktivitas tersebut.
"Yang kami coba lakukan bukan hanya menjual produk, tetapi juga mengajarkan warga bagaimana menggunakan teknologi untuk mendapatkan peluang ekonomi. Jadi, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa ikut terlibat dan mendapatkan penghasilan," katanya.
Inisiatif tersebut menyasar masyarakat dengan latar belakang yang beragam, termasuk generasi muda, pelaku UMKM, serta warga yang menjadi tulang punggung keluarga. Sebagian warga yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan digital.
Hendri menilai, keterampilan tersebut dapat menjadi modal bagi masyarakat desa untuk menghadapi perubahan pola konsumsi dan pemasaran yang semakin bergeser ke ruang digital. Di sisi lain, kemampuan memanfaatkan teknologi juga dapat membantu UMKM lokal mengurangi ketergantungan pada pasar di sekitar tempat tinggal.
"Harapannya, warga desa bisa punya kemampuan yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Ketika mereka sudah memahami cara membuat konten, menjadi host, atau memasarkan produk secara digital, keterampilan itu bisa terus dikembangkan untuk membuka peluang lain," ujarnya.
Ia juga melihat ekosistem digital dapat menjadi salah satu alternatif bagi generasi muda desa untuk mendapatkan pengalaman kerja dan penghasilan tanpa harus selalu meninggalkan daerah asal.
Menurut Hendri, pengembangan ekonomi berbasis digital di desa tetap membutuhkan pendampingan. Akses terhadap perangkat, jaringan internet, pemahaman mengenai pemasaran digital, hingga kemampuan membuat konten menjadi sejumlah hal yang perlu diperkuat agar masyarakat dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal.
"Masih banyak anak muda dan pelaku UMKM di desa yang sebenarnya punya potensi, tetapi belum tahu harus mulai dari mana. Karena itu, pendampingan dan berbagi pengetahuan menjadi penting supaya mereka bisa memanfaatkan peluang digital secara mandiri," kata Hendri.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.