Akumulasi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Di sisi lain, transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatatkan defisit sebesar 12,5 miliar dolar AS atau setara dengan 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan I-2026 sebesar 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen dari PDB.
Pembengkakan defisit ini dipengaruhi oleh faktor musiman dan kenaikan harga energi global. Sejalan dengan itu, pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipicu oleh lonjakan impor migas dan tingginya kebutuhan pengadaan barang modal untuk aktivitas ekonomi dalam negeri.
Otoritas moneter memprakirakan tekanan pada pos transaksi berjalan ini hanya berlangsung temporer sejalan dengan dinamika siklus perdagangan luar negeri.
"Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia, sedangkan surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah dipengaruhi peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi," kata Denny.