Dari sisi fundamental, kondisi ekonomi domestik memberikan pijakan solid bagi pergerakan indeks. Akselerasi pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 13,0 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Juli 2026, naik dari 12,1 persen pada Juni, menjadi pendorong utama ekspektasi kinerja sektor keuangan.
Di samping itu, keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga BI-Rate di level 5,75 persen serta perluasan insentif swap lindung nilai bagi pinjaman luar negeri dan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dinilai efektif menjaga stabilitas rupiah dan arus modal masuk.
"Ia menambahkan, dari sisi fundamental, pertumbuhan kredit yang tetap solid turut memberikan katalis positif bagi pasar domestik dan menjaga ruang penguatan IHSG. Di sisi lain, pergerakan rupiah, sentimen eksternal, serta potensi aktivitas perdagangan yang lebih terbatas pada awal pekan dapat menjadi faktor yang menahan laju penguatan," jelasnya.
Dari sisi global, pergerakan bursa Wall Street sepanjang pekan lalu diwarnai volatilitas tinggi akibat pergerakan yield US Treasury dan fluktuasi harga minyak mentah pascaeskalasi geopolitik AS-Iran.
Meski demikian, intervensi Departemen Keuangan AS melalui perluasan program buyback obligasi jangka panjang sebesar USD4 miliar membantu meredakan tekanan imbal hasil.
Meskipun defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 melebar menjadi 3,3 persen dari PDB, defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berhasil menyempit signifikan dari USD9,1 miliar menjadi USD0,9 miliar sehingga risiko eksternal relatif terkendali.