“Tentu saja itu cost yang sedikit ter-impact karena kita tidak bisa melakukan loading sesuai dengan kapasitas yang ada, karena kita khawatir itu akan kandas. Tetapi pada prinsipnya kita coba atur adalah sekitar antara 30-40 persen lebih rendah tergantung situasi dan keadaan level air di Sungai Mahakam,” jelasnya.
Di sisi lain, Mulianto menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya menjadi tekanan bagi perusahaan. Gangguan pengiriman akibat kondisi sungai berpotensi mengurangi pasokan batu bara dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga komoditas.
“Ini seperti dua sisi, di satu menimbulkan kenaikan biaya, tetapi di sisi yang lain boleh dibilang, ini fenomena yang mem-push harga batubara menjadi lebih tinggi,” tutur Mulianto.
Direktur ITMG Yulius menambahkan, dari sisi biaya per ton, kondisi tersebut membuat biaya pengiriman meningkat. Pasalnya, perseroan sebelumnya dapat menggunakan tongkang dengan kapasitas sekitar 7.000 ton, tetapi kini harus menurunkan kapasitas menjadi sekitar 3.500-4.000 ton.
“Kalau kita lihat dari sisi cost per ton, tentu saja cost per ton kita akan naik, dikarenakan kita sebelumnya menggunakan tongkang dengan kapasitas 7.000 yang lebih besar, mungkin saat ini kita turunkan ke level 3.500 atau 4.000,” kata Yulius.