“Kami memandang bahwa GRC bukan sekadar instrumen kepatuhan, tetapi merupakan bagian dari fondasi pengambilan keputusan dan strategi perusahaan. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika risiko yang semakin kompleks, tata kelola yang kuat harus mampu berjalan secara adaptif, terintegrasi, dan berbasis risiko agar transformasi perusahaan tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Farah, Kamis (10/9/2026).
Menurut Peruri, kebutuhan terhadap tata kelola yang terintegrasi semakin penting seiring perubahan perusahaan menjadi perusahaan teknologi dengan karakteristik high-security. Perkembangan portofolio bisnis dan pemanfaatan teknologi membuat jenis serta kompleksitas risiko yang dihadapi perusahaan ikut berkembang.
Karena itu, penguatan GRC diarahkan untuk memastikan setiap strategi dan keputusan perusahaan tetap mempertimbangkan aspek risiko, kepatuhan, akuntabilitas, serta keberlanjutan.
Konsistensi Peruri menunjukkan bahwa penerapan GRC telah diarahkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan perusahaan, bukan sekadar program yang bersifat sementara.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan untuk bergerak cepat dalam menghadirkan inovasi digital dan tuntutan untuk memastikan setiap layanan tetap aman, akuntabel, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.