Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Era Baru Perbankan, Keandalan Infrastruktur Digital Jadi Pertaruhan

Feby Novalius , Jurnalis-Senin, 14 September 2026 |13:08 WIB
Era Baru Perbankan, Keandalan Infrastruktur Digital Jadi Pertaruhan
Era Baru Perbankan, Keandalan Infrastruktur Digital Jadi Pertaruhan (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Industri perbankan kini dituntut untuk memperkuat infrastruktur teknologi yang tidak hanya memiliki kapasitas besar, tetapi juga mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan kebutuhan bisnis.

Untuk menjawab dan menyiapkan transformasi digital yang semakin masif, jajaran pimpinan bank nasional dan multinasional yang tergabung dalam Himbara, Perbanas, dan Asbanda, bersama pejabat tinggi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun bertemu. Pertemuan ini jadi ruang strategis untuk membahas kesiapan infrastruktur digital dalam menghadapi perkembangan industri perbankan yang semakin dinamis.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi perbankan adalah perubahan kebutuhan kapasitas teknologi yang dapat terjadi dalam waktu tertentu dan secara tidak terduga. Periode month-end, year-end closing, pemrosesan gaji, pemulihan bencana, dan peluncuran aplikasi baru dapat meningkatkan kebutuhan kapasitas konektivitas secara signifikan.

President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan menyampaikan digitalisasi perbankan membutuhkan infrastruktur yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan bisnis secara cepat.

“Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur,” ujar Armand, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Armand, kapasitas perbankan dapat berubah mengikuti month-end, year-end closing, payroll processing, disaster recovery, peluncuran aplikasi, dan kondisi tidak terjadwal. Karena itu, connectivity perlu berkembang dari infrastruktur yang fixed menjadi lebih adaptif.

Transformasi tersebut perlu didukung empat kapabilitas utama, yaitu agile dalam merespons perubahan, scalable dalam menyesuaikan kapasitas, resilient dalam menjaga keandalan, serta ready menghadapi peak events, disaster recovery, dan tuntutan regulasi.

 

Setelah proses setup awal, perubahan bandwidth berikutnya dapat dilakukan mandiri melalui Ultima tanpa proses pemesanan manual dan instalasi baru. Kapasitas dapat disesuaikan berdasarkan layanan yang berlangganan, dengan dukungan hingga 1.000 Mbps pada tier tertentu.

”Kami ingin memberikan agility kepada bank untuk mengelola kapasitas connectivity sesuai kebutuhan operasionalnya,” kata Armand. 

Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2022-2026 Sophia Isabella Wattimena menekankan pentingnya penguatan infrastruktur teknologi dalam mendukung transformasi digital perbankan.

“Transformasi digital perbankan perlu berjalan seiring penguatan kapabilitas infrastruktur teknologi. Keandalan, keamanan, manajemen risiko, dan kemampuan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan industri menjadi semakin penting,” tutupnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement