Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.046 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |15:38 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.046 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

Risiko inflasi diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan tingginya kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus meningkat.

Di tengah situasi ini, para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Pernyataan terkini dari para pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa mereka tetap terbuka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum ada sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 27–28 Oktober.

Saat berbicara di Bangkok pada hari Jumat, Ketua The Fed, Kevin Warsh, tetap pada pendiriannya untuk menghindari pemberian panduan ke depan dengan menyatakan, "Saya tidak ingin berprasangka terhadap hasil pertemuan mendatang." Minggu ini, jadwal ekonomi AS akan mencakup data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran dan angka awal PMI.

Dari sentimen domestik, 1. Emerging Market menjadi Standalone Market (MSCI) berpotensi masih akan mendominasi, meskipun perpindahan kelas tersebut masih berupa usulan dan pengkajian serta belum pasti akan terjadi serta lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka USD110 per barel. Namun hal tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko.

Adanya upaya dari otoritas bursa untuk melakukan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan pelanggaran, dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan volatilitas dan ketidakpercayaan. Namun jika diimplementasikan dengan baik, dalam jangka panjang akan kembali meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Sementara itu, pihak bursa mengumumkan penurunan batas auto-rejection dari 15 persen menjadi 7 persen, yang berlaku mulai hari Senin hingga akhir tahun, dengan tujuan membantu investor dalam pengambilan Keputusan, karena sebelumnya otoritas regulator menjatuhkan denda administratif dalam jumlah besar, dengan total mencapai Rp2,1 triliun, terhadap pihak-pihak yang terkait dengan perdagangan serta penawaran umum perdana (IPO) dari tiga perusahaan besar.

Ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga jadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas. Namun efektivitas intervensi itu akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan yang dihadapi dan seberapa cepat kepercayaan pulih. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6 persen.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.040-Rp18.090 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan diprediksi berada dalam rentang Rp17.850-Rp18.200 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement