Dampak ekonomi konser tersebut diperkirakan tidak hanya dirasakan pelaku usaha di sekitar kawasan GBK, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah Jakarta lainnya.
Mobilitas penonton dari dan menuju bandara, kebutuhan akomodasi, serta aktivitas wisata selama berada di Jakarta berpotensi meningkatkan pendapatan pelaku usaha, termasuk pengemudi taksi, transportasi daring, pemilik penginapan, hingga pedagang kuliner.
Karen menilai, para pekerja dan pelaku usaha lokal menjadi bagian penting dari penyelenggaraan konser, baik yang terlibat langsung dalam produksi maupun yang melayani kebutuhan pengunjung di luar area pertunjukan.
“Mulai dari kru yang membangun pertunjukan hingga pengemudi, pemilik usaha kuliner, dan pekerja layanan lainnya, mereka semua adalah bagian dari YE Live in Jakarta. Mereka semua adalah tuan rumahnya,” katanya.
Selain mendorong aktivitas ekonomi, konser Kanye West juga diperkirakan melibatkan sekitar 5.000 tenaga kerja Indonesia dalam berbagai bidang.
Ribuan pekerja tersebut terlibat dalam instalasi panggung, teknisi suara dan tata cahaya, kru LED dan video, logistik, keamanan, layanan medis, usher, hingga kebersihan.
Keterlibatan tenaga kerja lokal tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan konser dengan standar produksi internasional.
Penyelenggaraan konser ini mendapat dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, bersama sejumlah sponsor dan mitra.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.