Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi biomassa sekitar 83,4 juta ton per tahun berasal dari berbagai sumber, antara lain residu kelapa sawit, limbah kayu, sekam padi, residu pertanian, dan limbah agroindustri.
Potensi terbesar berada di Sumatera sekitar 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan 18,9 juta ton dan Jawa 13,1 juta ton. Potensi lainnya tersebar di Sulawesi, Papua dan Maluku, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan kesiapan rantai pasok, infrastruktur, teknologi, serta keekonomian.
Menurut Hokkop, kedekatan antara sumber bahan baku dan lokasi pengguna menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi biaya sekaligus menjamin kontinuitas pasokan.
“Pemanfaatan biomassa sangat bergantung pada sumber bahan bakunya. Kalau sumbernya semakin jauh dari pembangkit, tentu biaya pengirimannya akan semakin besar. Karena itu, kita perlu melihat potensi di sekitar pembangkit dan memastikan rantai pasoknya bisa berjalan secara ekonomis,” kata Hokkop.