Bisnis jasa keuangan mencatat kenaikan laba bersih 6 menjadi Rp7,2 triliun, ditopang pertumbuhan pembiayaan konsumen.
Pembiayaan baru Grup Astra meningkat 8 menjadi Rp92,5 triliun, sedangkan piutang pembiayaan bersih naik 6 menjadi Rp132 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025. ontribusi laba bersih bisnis pembiayaan sepeda motor mencapai Rp3,6 triliun, pembiayaan mobil Rp1,9 triliun, dan asuransi Rp1,4 triliun.
Di sisi lain, laba bersih bisnis solusi pertambangan dan alat berat di luar pos nonberulang turun 28 menjadi Rp5,1 triliun akibat berkurangnya penjualan emas, penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara, serta melemahnya permintaan alat berat.
Penjualan alat berat Komatsu turun 17 menjadi 3.000 unit, volume pengupasan lapisan tanah turun 7 menjadi 766 juta bank meter kubik, dan penjualan batu bara turun 23 menjadi 7,1 juta ton. Namun, kinerja bisnis ini mulai membaik pada kuartal III, tumbuh 15 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring kembali beroperasinya tambang emas Martabe dan meningkatnya aktivitas kontrak pertambangan.
Segmen usaha lainnya mencatat laba bersih di luar pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun, naik 36, terutama didukung bisnis agribisnis dan properti. Astra juga melanjutkan pengelolaan modal melalui program pembelian kembali saham senilai Rp10 triliun yang telah diselesaikan sejak November 2025 hingga September 2026, serta masih menjalankan program buyback senilai Rp8 triliun.
"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif,” tutup Rudy.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.